Being grown up is suck!!!! Menjadi dewasa itu menyebalkan!!!!!


Dulu waktu masih pake celana pendek berlarian di tengah hujan, kena jewer ibu karena lantai menjadi kotor, terpaksa harus jinjit untuk membuka pintu, bayangan menjadi orang dewasa itu menyenangkan. Orang dewasa itu boleh pulang malam, boleh pakai lipstik, sepatu berhak tinggi, duduk di restoran tanpa harus kena omel karena tumpah makanan, pergi jauh-jauh tanpa kena omel, bisa pacaran, punya uang sendiri. Pokoknya enak. Kamarnya juga sendiri. Ga harus satu kamar berdua.

Itu dulu

photo: http://helloalle.com/2011/02/08/big/

Sekarang mboke sudah berada di masa itu. Menjadi dewasa. Sudah pakai lipstik kalo ada undangan atau lip balm di hari biasa, jalan jauh-jauh tanpa kena omel bahkan kadang bertahun-tahun ga pulang pun ga kena omel, makan di restoran sesuka hati asal mampu bayar. Hanya sepatu berhak tinggi yang tidak mboke pakai karena tapak kaki yang mungil suka keseleo kalau memakai sepatu lebih dari 5 cm.

Enak?

Enggaaaaaaaaa…………!!!!!!!!!!!!

Menjadi orang dewasa itu menyebalkan!!!!

Terutama ketika harus mengambil keputusan. Ini adalah keistimewaan orang dewasa: mengambil keputusan. Butuh pemikiran yang keras karena ketika salah mengambil keputusan, ga ada orang lain yang harus disalahkan kecuali diri sendiri. Sialnya, keputusan ini kadang menyangkut masa depan dan atau orang banyak. Seperti ketika si dia meminta kembali. Apakah harus diterima dengan segala konsekuensi sifat dia yang bikin kemarin putus atau menolaknya dan sendirian sampai ada orang yang tepat? Pusing karena harus mempertimbangkan logika dan rasa. Anak-anak mana pernah begitu. Mereka mungkin mengambil keputusan tapi tidak perlu pertimbangan terlalu dalam.

Akibat pengambilan keputusan ada efek samping: tanggung jawab! Orang dewasa harus bertanggung jawab dengan segala pilihannya dan itu menyebalkan! aaaarrrrrrrggggggggggggghhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!

Saat menyebalkan lainnya adalah orang dewasa harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. Capek sekali rasanya tapi kalau tidak dilakukan bisa-bisa ga makan di restoran, beli sepatu, jalan jauh-jauh. Walhasil 6×12 jam dipakai buat bekerja. Berangkat pagi pulang sore dengan mata merah akibat kelamaan di laptop. Belum lagi harus jalan 7 blok sebelum sampai rumah dengan ransel besar di punggung, laptop di tangan kanan dan tangan kiri masuk ke dalam jaket akibat kedinginan di tengah musim gugur. Sampai kamar makanan hangat tidak ada, harus mandi untuk menyegarkan badan dan harus meluangkan 3 jam lagi waktu untuk mengevaluasi pekerjaan hari ini. Badan terasa remuk, mata terasa berat dan kasur menjadi setan yang merayu untuk ditiduri.

Orang dewasa harus berpura-pura baik. Haduuuuuh…. kadang capek untuk berbasa basi. Tapi itu harus dilakukan karena mood yang buruk tidak boleh mempengaruhi perilaku sosial ke orang lain. Walhasil, sambil menahan geram karena nilai yang buruk, senyum tetap mengembang ketika berkumpul dengan teman.

Oh ya… punya pacar itu kelebihan orang dewasa. Meski anak-anak jaman sekarang sudah berani bilang pacaran tapi pacaran orang dewasa itu lebih… gimana ya… hmmm… lebih… maknyus kali ya… tapi sialnya sakit hati, kesal dan marahnya pun lebih maknyus.  Oke lah soal saling menyesuaikan diri tapi saat kita yang lebih berusaha keras dibandingkan pacar yang kayaknya cuek, sepertinya makan hati lebih banyak dari pacaran anak-anak.

Siapa bilang punya uang itu enak. Emang sih penghasilan orang dewasa lebih banyak dari anak-anak. Tapi sewaktu menjadi tanggungan orang tua, anak tinggal menadahkan tangan dengan berbagai alasan agar dapat uang. Atau bekerja untuk mengambil hati agar dapat uang, meski jumlahnya tak sebesar uang yang dihasilkan orang dewasa, tapi ga terlalu pusing. Beda dengan orang dewasa yang harus bekerja dan mendapatkan uang yang berkali lipat dari waktu kecil. Masalahnya pengeluaran pun menjadi lebih besar dan bikin pusing!

Penampilan yang dulu dibayangkan semasa kecil ternyata tidak mudah. Untuk bisa mengoleskan lipstik di bibir tebal ini harus ada tehnik tertentu, belum lagi pemilihan warna. Ga cuma masalah bibir, perawatan muka, kulit, bau badan, bau kaki, jerawat, kulit terlalu berminyak, kulit terlalu kering, rambut terlalu lepek, rambut terlalu megar, alis yang naik sebelah, mata yang terlalu belo. Haduuuuuh…. bikin harus sering-sering keluar masuk toko kosmetik, baca majalah, bertanya pada salon dengan hasil yang tidak memuaskan.

Apalagi kalau masih single. Makin susah derita hidup. Yang bertanya kapan nikah, yang bertanya kenapa ga laku, yang menuduh pilih-pilih pasangan. Sudah punya pasangan ditanya kapan nikah, yang sudah nikah ditanya kapan punya anak, yang sudah punya anak ditanya kapan punya cucu. Untung aja belum ada yang kurang ajar bertanya kapan mati. Permainan anak-anak rumah tangga-rumah tanggaan dan nikah-nikahan tiba-tiba menjadi masalah saat dewasa *sigh.

Jadi dewasa? bertambah tua! keriput di sudut mata, garis ketawa, garis leher, pinggang berlemak. Berbagai krim penghambat keriput mulai dicari, berbagai alat penghancur lemak mulai diminati. Haduuuuh….

Jadi dewasa? menyenangkan?

It is suck being grown up!

Bagaimana menyatakan duka…


kadang kita kebingungan saat menyampaikan duka kepada teman atau keluarga terdekat. Di Indonesia biasanya ucapan yang paling umum adalah: Tuhan sayang dia sehingga memanggil dia terlebih dahulu atau kita sayang dia tapi tuhan lebih sayang. Satu kalimat yang ingin mboke bantah karena berarti tuhan tidak sayang mboke yang masih hidup. Seorang keluarga bilang kalau orang baik meninggal lebih terdahulu. Penghiburan untuk menyatakan bahwa yang meninggal adalah orang baik. Mboke yang menatap orang yang berkata seperti itu dan bilang: “lihat saya… saya tidak baik sehingga dibiarkan hidup”. Sulit. Buat keluarga yang ditinggalkan ucapan itu tidak bisa dibantah karena ga bakalan sempat untuk berargumen. Tapi jika lebih sehat (dan bertemu mboke) pasti akan dibantah.

Iseng-iseng saat mencari literatur tentang menentukan sample di internet mboke bertemu artikel yang bagus. Berikut intisarinya:

Memang sulit untuk menyatakan turut berbelasungkawa kepada teman terdekat. Biasanya teman terdekat yang menjadi curahan hati keluarga yang ditinggalkan  (mboke: berbahagialah orang yang mendapat penghargaan untuk mendengarkan kesedihan orang yang ditinggalkan karena berarti dianggap orang terdekat). Tidak ada cara yang paling bagus untuk menyatakan keprihatinan kita dan rasanya sangat canggung. Namun jangan sampai kecanggungan kita membuat kita tidak bisa memberikan comfort kepada teman yang kehilangan keluarganya. Karena dia butuh support. 

Apa yang harus dikatakan

Kadang mereka menolak jika ditanya apa yang bisa dilakukan karena pikiran mereka kalut dan biasanya penolakan memang terjadi. Jadi lebih tanyakan dengan tenang dan sabar untuk menuntun mereka mencurahkan isi hati. 

Nyatakan keprihatinan kamu. Sorry to hear your loss. Turut berbelasungkawa.

Nyatakan dengan tulus

Nyatakan bantuan. Ada yang bisa saya bantu untuk meringankan beban? 

Menjadi pendengar. Dengarkan semua cerita dia. jadilah pendengar yang baik tapi jangan sesekali menggunakan kata-kata atau respon yang mengecilkan arti kehilangan seseorang buat dia. jadilah pendengar yang bijak meski kadang ceritanya berputar dan kurang terarah.

Follow up. Setelah kejadian kematian, acara belasungkawa, buat pelawat sudah selesai kejadian tapi tidak buat keluarga yang ditinggalkan. Telepon lah sesekali atau berkunjung. Emosi mereka masih berubah-ubah dan butuh seseorang untuk menemani.

Jangan sekali-kali bilang:

“Dia sekarang sudah berada di tempat yang baik” (siapa yang tahu?)

“Aku tahu apa yang kamu rasakan” (mboke sering bilang gini karena merasa pernah mengalami kejadian yang sama)

“Ini bagian dari rencana tuhan” (siapa kamu sampai tahu rencana tuhan?)

“kamu harus begini atau begitu” (masih sedih dah diperintah)

“Kamu nanti akan melupakannya” (ok tapi bukan itu yang terbaik untuk diucapkan)

Lebih baik lakukan hal yang sederhana tapi berarti. Melakukan sesuatu untuk membantu keluarga atau orang yang ditinggalkan atau mendengarkan cerita mereka. Sering kali orang berfikir kata-kata religi akan membantu meringankan duka (tapi kalau keseringan malah bikin putus asa). 

Seorang ibu yang sedang berduka bilang: “jangan awali kalimat dengan ‘sejalan dengan waktu rasa duka akan berkurang’, ‘sejalan dengan waktu rasa sakit itu akan berkurang’, ‘nanti juga kamu akan lupa’. Itu ga benar karena berduka bukan rasa sakit yang harus disingkiran”

Seorang ibu yang kehilangan anaknya karena kanker bilang:“yang paling menyakitkan adalah saat orang berfikir bahwa jangan bicarakan atau berbicara tentang orang yang baru meninggal lebih baik cerita yang lain”. Berbicara buruk tentang orang yang baru meninggal memang tidak baik untuk dilakukan tapi kadang membicarakan kenangan tentang adik yang baru pergi kadang membantu mengurangi rasa kerinduan.

Mark yang menemani mboke sehari setelah kedukaan bilang: kalau tidak ada teman yang bisa dipercaya, tulislah. Tulis semua kesedihan, kedukaan, kemarahan dan kenangan. Semuanya dan kemudian jika sudah siap, bakar. Tapi tidak ada yang lebih baik selain pengertian dan comfort dari orang terdekat dan mengadu kepada tuhan.

Saatnya berduka…


Oke… saatnya untuk membagi perhatian. Mboke lagi ingin membicarakan tentang bagaimana menemani orang yang berduka. Belajar dari pengalaman, bukan dari buku-buku help yourself atau guide atau how to atau grieving for the dumb (kayaknya ini tema menarik buat ditulis dan dijual belikan). Ada 3 kematian yang pernah dialami tapi dua diantaranya mboke tidak terlibat langsung karena jauh dan ketika bertemu hanya berupa makam bersih setahun atau beberapa tahun kemudian. Tapi kematian yang terakhir adalah kematian yang prosesnya dilihat didepan mata. Meski saat itu terjadi, rasa terpukul tetap ada.

(c)http://www.golocalworcester.com/lifestyle/modern-manners-etiquette-talking-about-death-and-loss/

Siang tadi mboke mengundang Jules, pria dari Philliphina untuk ikut makan siang. Biasanya mboke makan siang dengan teman satu bahasa atau sendirian tapi tidak kali ini. Jules baru saja kehilangan ayahnya dua minggu lalu. Matanya masih suka berkaca-kaca saat dia teringat. Jadi saat mboke tanya sebelum kelas dimulai kemana aja dia selama ini dan dia langsung berkaca-kaca, mboke langsung tahu ada sesuatu yang salah. Apalagi saat dia menjawab: “I was at home, I didn’t attend the class“. It happened to me and I knew. Jadi mboke aja dia makan siang.

Dia datang 20 menit telat. Langsung dari rumah. Berarti pagi ini dia ga ke kampus. Mengurung diri di kamar. Dan kami mulai bicara. Tentang ayahnya, tentang A leng, tentang sakitnya, tentang kepulangannya. Tentang tangis yang tertahan di kamar atau di kamar mandi dengan membuka keran shower sampai maksimal agar tak terdengar orang. Kelu. Tapi kami senasib, jadi kami berbagi. Mboke yang karatan sering sakit menyarankan dia untuk ke student counselor karena mereka tahu cara menangani kesedihan secara ilmiah. Mereka adalah otak logis yang akan membantu otak sakit yang berduka untuk melihat dunia lebih logis.

Saat kita mengalami kedukaan, kesedihan, trauma, secara normal otak kita akan shut down. Wajar kalo tidak tiba-tiba menjadi tidak tahu harus berbuat apa. Karenanya butuh otak normal yang logis untuk membimbing. Keluarga, sahabat atau teman terdekat lah yang lebih baik menjadi pendamping. Mereka menjadi berkali lipat berharga saat dibutuhkan. Teman menjadi terasa penting dan sangat bermanfaat. Apalagi pasangan, suami, pacar. Dia menjadi orang yang saat diandalkan saat kritis. Dan teman sejati terukur saat ini.

Menangis bersama bukan opsi yang tepat buat saat genting. Menghibur adalah tindakan yang tepat. Pelukan, usapan di pundak atau mendengarkan adalah yang terbaik. Ucapan belasungkawa ga perlu diucapkan berkali-kali. Biasanya ada beberapa orang yang ingin meluapkan kenangan, kemarahan, kedukaan. Dengarkan. Ada beberapa orang yang cenderung diam dan menangis. Temani. Atau ada yang diam dengan muka beku. Perhatikan tanpa terlihat. Bantu dengan tenaga jika perlu. Jangan sampai keluarga yang berduka harus ikut memikirkan kursi taruh dimana, tikar ada dimana untuk pelayat. Berikan mereka waktu untuk beradaptasi dengan kehilangan.

Mboke dan Jules yang jauh dari keluarga kehilangan moment berbagi kesedihan dengan keluarga. Kami terpaksa menyimpannya sendiri. Teman yang pengertian sangat diperlukan. Sasa datang dengan mengusap kaki mboke yang duduk menjulur sambil menangis. Mendengarkan cerita tentang betapa menyesalnya karena tidak bisa bertemu Aleng tahun depan. Jerry datang ke ruangan dan bilang: ” give me hug. Do you need calling card?” begitu tahu mboke cari kartu telepon. Lizzy yang mencari Mark dan menemukan mboke sendirian cuma tersenyum dan waktu mboke bilang: “sorry you have to see me crying again”. Dia cuma menambahkan:”Hey, have a cup of coffee with me. I know you have a hard time. Are you sure you don’t want to talk about it?” Rasanya menyenangkan meski mereka tidak ikutan menangis tapi memberikan bantuan dan kegembiraan.

Saat Jules berkaca-kaca, mboke tahu. Dia butuh teman. Bukan orang yang ikut menangis tapi teman yang meringankan hati. Sambil makan kentang goreng dan ikan goreng kami cerita tentang kedukaan lalu bilang: we will not talk about this unless you want. Let’s talk about something else. Dan kami pun bicara tentang Filipina, korupsi, politik. Makan siang yang lama diakhiri dengan muka Jules yang lebih cerah meski masih muram. Sudah ada senyum.

Buat FIU, please be human

Seminggu setelahnya…


It’s not the deceased but it’s all about the living.

Yang meninggal sudah tenang. Ga lagi merasakan sakit, ga lagi merasakan susah. Tapi yang tertinggal merasakan sakit akibat kehilangan.

Jumat itu mboke terduduk di depan psikolog. Beberapa cerita mungkin tidak bisa diceritakan kepada teman yang berpotensi menimbulkan gunjingan. Cerita duka terdalam lebih baik diceritakan kepada orang yang dipercaya dan mboke percaya kepada si ahli daripada orang yang sebangsa.

“I don’t know how to grieve”. Itu kalimat pertama. Saya tidak tahu cara berduka. Kalau di Indonesia, begitu kematian terjadi, keluarga, teman dan sahabat akan berkumpul, melawat, melaksanakan acara keagamaan atau ritual kematian. Ga ada waktu buat berduka. Saat berduka, sedih dan mengenang kematian adalah saat sendiri.

Berbeda dengan orang yang jauh dari keluarga. Semuanya menjadi sendiri dan kesedihan, kenangan, kemarahan bertumpuk. Akan menjadi jelas. Satu-satunya cara adalah membagi kesedihan kepada orang yang bisa dipercaya dan akan memegang rahasia itu. Pilihan mboke adalah counselor yang kebetulan psikolog.

Mark menyarankan untuk menikmati kesedihan itu sekarang. Better now than later. Insting, manusia akan mengelak mengakui kedukaan. Seperti mboke. Menolak. Tapi menurut Mark, lebih baik berduka sekarang daripada tahun depan atau nanti. Sekarang adalah waktu yang tepat. Semua orang memaklumi dan bayangan itu jelas. Tapi tahun depan, saat semua orang melupakan dan kita mulai berduka, mereka tidak akan mengerti dan beranggapan kita adalah drama queen, meski sebenarnya kita sedang berduka. Jadi Mark bilang: berduka lah sekarang.

Pertanyaan berikutnya: “how long?” Mark tersenyum dan bilang: “I don’t know”. Pertanyaan bodoh dengan jawaban yang simpatik. Siapa yang tahu berapa lama kita berduka dan menghapuskan kesedihan? enam bulan, satu tahun,  dua tahun, seumur hidup? Mboke ga mau terus menerus dan lama dalam kedukaan. Harus berjuang lepas dari kesedihan tanpa melupakan semua kenangan.

Mark cuma berkata: do the grieving. Crying whenever you remember her. If you hear her voice or look some one looks like her, stop and listen, cry if you want to. People understand. but do it now. However don’t bury yourself with sadness. Go out, ask friend to watch you and be with you, shopping, cook something delicious, take long bath and force yourself to do daily activities even it is hard. Many times do your religious things help you.

Memang itu yang terjadi. Terkadang A leng memanggil dan mboke mencari asal suara. Suara beraksen Indonesia di tengah kumpulan para bule. Berkaca-kaca jika ada yang bertanya (bahkan saat menulis), berusaha bangun setiap pagi meski sulit. Menghilangkan suicidal thought or hurting myself. Mboke akhirnya meminta bantuan teman untuk memastikan mboke ada. Beberapa orang akan sesekali menjenguk mboke di office. Kadang mereka sengaja mampir dengan berbagai alasan atau datang untuk menemani dengan terang-terangan bilang: You are ok dan memberikan pelukan hangat atau high five.

Mereka beda kebangsaan, beda bahasa, beda kebudayaan. Tapi mereka yang mendekati. My man with the same language neglect me :( .

Sebelum mboke beranjak, Mark berkata: “write every feeling that you feel, about your anger and burn it. It will make easier if you don’t want to talk to someone else”. Mboke melakukannya.

“Help someone. It will help you to forget the sadness”. Mboke akan melakukannya.

“And if you need help from me (he is curious about suicidal thought), please come next week. I can’t stop you if you want to do it but we’ll see something interesting to enjoy the life”.

Some one said: at the end everything will be fine but if it is not fine, it means it is not the end.

Mboke bangkit. Mata masih merah. Ini sudah seminggu. The grieving still continue… Sasa masih sms dan akan menelepon kalau sms tidak dijawab untuk memastikan mboke masih ada. Mboke masih berkaca-kaca tapi frekuensi rutin untuk menangis di kamar mandi kampus mulai berkurang. Keberanian untuk membuka album, foto dan segala sesuatu yang berhubungan dengan A leng masih belum ada. Sampai saatnya tiba….

It’s not about the deceased but it’s all about the living…

(saya menulis untuk membagi rasa juga membagi simpati untuk orang-orang yang baru saja kehilangan keluarga, teman, sahabat dan atau orang terdekat. Semoga ada yang bisa diambil dan dimanfaatkan)

The Death, Alive, Sickness, Pain


Dini hari, kamis, 17 Mei, Wisnu menyapa. Tumben tuh anak menanyakan adek mboke. Biasanya meski sama-sama online, jarang banget saling sapa. Mboke yang baru bangun tidur dengan ceria cerita tentang A Leng yang sedang dikemoterapi dengan obat baru. Obat kemonya yang lama merusak jantung dan sekarang harus ganti obat. A Leng ga mau tadinya tapi mamah mau. A Leng ngadu lewat message di FB minta dukungan supaya ga kemo lagi. Obat kemonya yang baru berpotensi merusak ginjal. Mboke yang selalu berharap A Leng bisa sembuh, setidaknya kankernya ga menyebar dan terlokalisir, malah mendukung mamah dan minta A Leng supaya kemo. Jawaban waktu itu: “sakiiiit mboook, gue ga mau lagi. Begini udah enak. Udah biarin aja sampai mati”. Jawab mboke: “iya sakit. Tapi kalo kemo berhasil, kan ga sakit lagi. Yang mboke takutin, sekarang A Leng ga ngerasa apa-apa tapi nanti malah parah. Lebih baik kemo, sakit tapi nanti ga papa”. Ga ada jawaban…. dan kabar yang diterima A Leng sudah di Dharmais untuk kemo.

Saat Wisnu menyapa, dalam pikiran mboke, A Leng sedang muntah berat setelah kemo dengan obat barunya. Apalagi Uning bilang kalo sekarang pada sibuk di RS karena A Leng habis kemo. Diujung pembicaraan Wisnu malah tanya harga tiket ke NZ yang dibalas dengan ceramah cari beasiswa kemari. Sehabis Wisnu, Fris menyapa. Tapi beritanya lain. Dia bilang kalo A Leng sudah susah. She passed away. Dia dapat kabar dari Wisnu. Ga mungkin karena Wisnu barusan chat. Tadinya mboke minta supaya Fris sms uning karena sms mboke sudah beberapa hari tidak dijawab. tapi permintaan itu dibatalkan karena takut kalau berita benar selain itu karena saat itu pasti tengah malam di Indonesia.

Pagi dilewati dengan ketidaknyamanan. Mboke mulai menghubungi via facebook tanpa balasan. Memberanikan diri membuka facebook A leng. Beberapa orang menuliskan keterkejutan dan berbelasungkawa, mulai dari 3 jam yang lalu. Ga mungkin. A Leng sedang di RS, sedang pemulihan. Mboke cuma menulis di wall A Leng: A Leng lagi di RS, sedang kemo. Tidak ada bantahan. Sehari itu mboke di rumah, menunggu. Menangis. Ucapan di wall A Leng makin banyak. FIU yang pagi itu menemani mboke mendapat kata-kata keras (kalo ga bisa dibilang makian) karena tidak bisa menemani dan menenangkan hati mboke yang susah.

Tetap tidak ada berita. SMS sudah. FB sudah. Diam… ga ada berita…

Jumat pagi mboke ke kantor dengan mata sembab dan keyakinan Aleng ga ada. Menangis saat Jhon berkata: “is it true?” Sejam kemudian mboke berada di klinik mahasiswa dengan janji jam 2 akan bertemu konselor. Menumpahkan perasaan….

Hari sabtu masih kuat, hari minggu mulai goyah, hari senin memaksakan diri. Sekarang selasa. Mboke terkapar. Yang pergi sudah melepaskan semua rasa sakit. Yang tertinggal lumpuh menjadi sakit. Jangan bilang Aleng dah ga kuat sehingga memilih pergi. Karena mbok tau, Aleng kuat dan akan berjuang sampai akhir. Tapi memang tuhan mentakdirkan sekarang, kuat ga kuat, Aleng harus pergi. Jangan bilang jangan menangisi yang pergi. Karena mboke merasa layak berduka. Semua harapan dan doa terkumpul untuk kesembuhan. Tahun depan pasti bertemu. Itu bekal mboke saat pergi dari rumah sakit menuju bandara. Tatapan terakhir dan tangkis kami terakhir, bersama.

Sampai sekarang mboke ga tahu Aleng kapan pergi. Mungkin itu lebih baik. Kenangan terakhir yang tersisa saat dia melepas mboke dari tempat tidur di Dharmais dengan tangis dan mata yang berduka. “Mungkin tahun depan gue ga ada”. Kenangan yang selalu teringat dan dan selalu menyisakan tangis.

No more pain anymore. Begitu yang dia tulis saat ibu Endang meninggal karena kanker. Sekarang Aleng pun tidak lagi merasa sakit.

No more pain….

dan mboke masih menangisi….

Belajar dari teman


Hidup baru, menambah teman baru, menambah pengalaman hidup. Begitu juga saat mboke berkenalan dengan Wita (bukan nama sebenarnya). ABG keturunan (China), berada dan pergi ke sini untuk memulai hidup baru. Awalnya sih heran aja liat nih anak suka banget memberikan respon: “heh” atau “apa” saat bicara. Akhirnya diketahui kalo pendengarannya ga sejelas pendengaran orang normal. Karena rambut telinga yang mengantarkan gelombang suara tidak memiliki jumlah yang cukup sehingga ia membutuhkan alat untuk bisa mendengar dengan baik.

Tapi Wita sempurna. Dia pekerja keras, berkemauan keras dan berusaha keras.

Saat makan siang kemarin, teman Wita datang bergabung. “She can’t hear you” begitu kata Wita. Namanya Sherryl (bukan nama sebenarnya). Wanita dari Singapura ini hidup sendiri di New Zealand dan dia tuna rungu. Semua percakapan dilakukan dengan bahasa isyarat. Mboke yang ga bisa berbicara bahasa isyarat, terpaksa menjadikan Wita sebagai penterjemah. Sherryl sempurna, meski dia hidup di dunia tanpa suara.

Tidak mendengarkan keluhan teman, suara gedebuk sebelah kamar yang sibuk memadu kasih di kasur, tidak heboh mendengar suara langkah kaki berlari di teras yang terbuat dari papan. Wita dan Sherryl bisa belajar dengan tenang di dunia tanpa suara. Mereka menerima kekurangan sebagai kelebihan.

Ada seorang pria yang selalu mboke jumpai di halte kampus kalo pulang jam 4 sore. Pria itu selalu naik bus nomor 12A. Namanya Andrew dan dia selalu mendapat kehormatan untuk menempati 2 buah bangku sendirian dan masuk terlebih dahulu. Bukan karena dia gendut tapi karena dia harus menyediakan tempat untuk anjing penuntunnya yang berbulu lebat dan besar. Andrew buta. Begitu dia duduk di kursi, dia akan membuka laptopnya dan memakai headset untuk mengetahui jalan. Anjingnya duduk tenang sambil kadang iseng menciumi kaki. Ga pernah terlewati halte tempat dia turun.

Menarik belajar dan memperhatikan mereka. Sempurna dalam ketidaksempurnaan.

PS. Baru dapat informasi ternyata Andrew adalah dosen Statistik dengan gelar Doktor. Menurut teman mboke yang jadi mahasiswanya: “He is blind but he draws perfect graph on the board. And don’t you dare eat or drink in his class (disini mahasiswa boleh makan cemilan tapi bukan makanan berat kayak nasi hangat plus rendang dan kerupuk dan minum di kelas), he can hear you and yell at you even if you sit in the back corner”