Dulu waktu masih pake celana pendek berlarian di tengah hujan, kena jewer ibu karena lantai menjadi kotor, terpaksa harus jinjit untuk membuka pintu, bayangan menjadi orang dewasa itu menyenangkan. Orang dewasa itu boleh pulang malam, boleh pakai lipstik, sepatu berhak tinggi, duduk di restoran tanpa harus kena omel karena tumpah makanan, pergi jauh-jauh tanpa kena omel, bisa pacaran, punya uang sendiri. Pokoknya enak. Kamarnya juga sendiri. Ga harus satu kamar berdua.
Itu dulu
Sekarang mboke sudah berada di masa itu. Menjadi dewasa. Sudah pakai lipstik kalo ada undangan atau lip balm di hari biasa, jalan jauh-jauh tanpa kena omel bahkan kadang bertahun-tahun ga pulang pun ga kena omel, makan di restoran sesuka hati asal mampu bayar. Hanya sepatu berhak tinggi yang tidak mboke pakai karena tapak kaki yang mungil suka keseleo kalau memakai sepatu lebih dari 5 cm.
Enak?
Enggaaaaaaaaa…………!!!!!!!!!!!!
Menjadi orang dewasa itu menyebalkan!!!!
Terutama ketika harus mengambil keputusan. Ini adalah keistimewaan orang dewasa: mengambil keputusan. Butuh pemikiran yang keras karena ketika salah mengambil keputusan, ga ada orang lain yang harus disalahkan kecuali diri sendiri. Sialnya, keputusan ini kadang menyangkut masa depan dan atau orang banyak. Seperti ketika si dia meminta kembali. Apakah harus diterima dengan segala konsekuensi sifat dia yang bikin kemarin putus atau menolaknya dan sendirian sampai ada orang yang tepat? Pusing karena harus mempertimbangkan logika dan rasa. Anak-anak mana pernah begitu. Mereka mungkin mengambil keputusan tapi tidak perlu pertimbangan terlalu dalam.
Akibat pengambilan keputusan ada efek samping: tanggung jawab! Orang dewasa harus bertanggung jawab dengan segala pilihannya dan itu menyebalkan! aaaarrrrrrrggggggggggggghhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!
Saat menyebalkan lainnya adalah orang dewasa harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. Capek sekali rasanya tapi kalau tidak dilakukan bisa-bisa ga makan di restoran, beli sepatu, jalan jauh-jauh. Walhasil 6×12 jam dipakai buat bekerja. Berangkat pagi pulang sore dengan mata merah akibat kelamaan di laptop. Belum lagi harus jalan 7 blok sebelum sampai rumah dengan ransel besar di punggung, laptop di tangan kanan dan tangan kiri masuk ke dalam jaket akibat kedinginan di tengah musim gugur. Sampai kamar makanan hangat tidak ada, harus mandi untuk menyegarkan badan dan harus meluangkan 3 jam lagi waktu untuk mengevaluasi pekerjaan hari ini. Badan terasa remuk, mata terasa berat dan kasur menjadi setan yang merayu untuk ditiduri.
Orang dewasa harus berpura-pura baik. Haduuuuuh…. kadang capek untuk berbasa basi. Tapi itu harus dilakukan karena mood yang buruk tidak boleh mempengaruhi perilaku sosial ke orang lain. Walhasil, sambil menahan geram karena nilai yang buruk, senyum tetap mengembang ketika berkumpul dengan teman.
Oh ya… punya pacar itu kelebihan orang dewasa. Meski anak-anak jaman sekarang sudah berani bilang pacaran tapi pacaran orang dewasa itu lebih… gimana ya… hmmm… lebih… maknyus kali ya… tapi sialnya sakit hati, kesal dan marahnya pun lebih maknyus. Oke lah soal saling menyesuaikan diri tapi saat kita yang lebih berusaha keras dibandingkan pacar yang kayaknya cuek, sepertinya makan hati lebih banyak dari pacaran anak-anak.
Siapa bilang punya uang itu enak. Emang sih penghasilan orang dewasa lebih banyak dari anak-anak. Tapi sewaktu menjadi tanggungan orang tua, anak tinggal menadahkan tangan dengan berbagai alasan agar dapat uang. Atau bekerja untuk mengambil hati agar dapat uang, meski jumlahnya tak sebesar uang yang dihasilkan orang dewasa, tapi ga terlalu pusing. Beda dengan orang dewasa yang harus bekerja dan mendapatkan uang yang berkali lipat dari waktu kecil. Masalahnya pengeluaran pun menjadi lebih besar dan bikin pusing!
Penampilan yang dulu dibayangkan semasa kecil ternyata tidak mudah. Untuk bisa mengoleskan lipstik di bibir tebal ini harus ada tehnik tertentu, belum lagi pemilihan warna. Ga cuma masalah bibir, perawatan muka, kulit, bau badan, bau kaki, jerawat, kulit terlalu berminyak, kulit terlalu kering, rambut terlalu lepek, rambut terlalu megar, alis yang naik sebelah, mata yang terlalu belo. Haduuuuuh…. bikin harus sering-sering keluar masuk toko kosmetik, baca majalah, bertanya pada salon dengan hasil yang tidak memuaskan.
Apalagi kalau masih single. Makin susah derita hidup. Yang bertanya kapan nikah, yang bertanya kenapa ga laku, yang menuduh pilih-pilih pasangan. Sudah punya pasangan ditanya kapan nikah, yang sudah nikah ditanya kapan punya anak, yang sudah punya anak ditanya kapan punya cucu. Untung aja belum ada yang kurang ajar bertanya kapan mati. Permainan anak-anak rumah tangga-rumah tanggaan dan nikah-nikahan tiba-tiba menjadi masalah saat dewasa *sigh.
Jadi dewasa? bertambah tua! keriput di sudut mata, garis ketawa, garis leher, pinggang berlemak. Berbagai krim penghambat keriput mulai dicari, berbagai alat penghancur lemak mulai diminati. Haduuuuh….
Jadi dewasa? menyenangkan?
It is suck being grown up!


