Tag Archive | Cianjur

43. Curi dengar


(c)www.domestica79.blogspot.com

Siang tadi mboke pergi jalan untuk mencari pemandangan baru. Langit mendung, tapi ga papa, daripada di rumah kedinginan, mungkin kehujanan di tengah jalan nanti juga membawa sedikit kecerahan hati. Perjalanan hari ini ke arah kota, Cianjur. Naik angkot ke Cipanas dan nyambung lagi. Harusnya naik L 300 ke arah Cianjur tapi ga terpikirkan saat itu, walhasil 30 menit menunggu dalam angkot Cipanas – Cianjur. Masalah ngetem bisa dimaklumi, masalah asap rokok yang mengepung itu yang tidak bisa dimaklumi.

Salah satu strategi menarik penumpang adalah penumpang penarik. Beberapa orang berperan sebagai aktor dan duduk dalam angkot sehingga kesannya angkot sudah agak terisi. Saat penumpang tertarik dan naik, satu persatu mereka akan turun. Strategi umum. Namun yang bikin menyebalkan hari itu, sang aktor penumpang adalah beberapa pria calo yang asik merokok. Saat mbok naik, mereka dengan santainya mengepulkan asap dan salah satunya meletakan rokok di samping mboke. Waaah… ga kuat rasanya terkepung dalam asap tembakau… baju bau, rambut bau. Seandainya seperti cerita sinetron, pasangan mengetahui perselingkuhan dari aroma baju yang berbeda, kayaknya mboke dituduh selingkuh. Pasangan mboke ga merokok, dia pasti curiga kalo tiba-tiba bau baju mboke yang wangi jadi aroma tembakau.

Turun, cari angkot baru, nunggu 10 menit, daaan terdamparlah dalam angkot berisi 3 orang ibu-ibu. Seorang ibu setengah baya, seorang ibu berbaju putih yang memangku anak kecil, seorang ibu muda yanng berpangku tangan dan seorang anak perempuan, kayaknya anak dari ibu berbaju putih.

Ibu berpangku tangan turun sambil membawa anaknya yang sebelumnya dipangku ibu berbaju putih yang duduk depan mboke. Begitu ibu itu turun, mulailah sapaan ibu setengah baya berbahasa sunda, menanyakan siapa anak itu. Dan cerita pun mengalir. Jangan salahkan mboke karena mendengar percakapan mereka. Mereka berbicara keras-keras menceritakan kesedihan dari ibu sang anak yang turun tadi. ternyata perempuan yang menggendong turun si anak adalah bibi bukan ibunya. Ibunya kerja di Arab sebagai TKW dan jarang pulang. Ayah si anak menikah lagi dan hidup berbahagia dengan menggunakan hasil jerih payah si Ibu sedang anak diurus oleh keluarga istri. Wanita setengah baya itu memuji si ibu TKW dan bilang ga salah istri yang berbakti.

Mboke misuh-misuh dalam hati yang kesal mendengar percakapan itu. Bagaimana seorang perempuan mempertaruhkan nyawa kerja di negeri yang kurang menghargai wanita, suami menikah lagi dan menggunakan uang hasil kerja istri untuk mendapat penghiburan dari wanita lain. Si istri masih juga rela. Anak terlantar pun, si Istri masih rela. Antara pasrah dan bodoh itu beda tipis dan hanya kita yang bisa melepaskan diri dari kebodohan.

Sayangnya, mboke tidak bisa ikut turut campur dan memberikan pendapat karena mereka tidak bicara untuk umum meski dilakukan di kendaraan umum.

Curi dengar menjadi hal yang bisa terjadi jika berada di tengah fasilitas publik. Sebenarnya bukan curi dengar yang sengaja tapi curi dengar yang terpaksa. Siapa yang bisa menghindari menghindari percakapan bahkan yang pribadi sekalipun jika dibicarakan keras-keras dalam kendaraan umum? yang harusnya jadi bisikan dibalik pintu menjadi omongan di dalam kendaraan umum.

Berhati-hatilah berbicara dalam kendaraan umum, ga semua orang mau mendengar masalah anda dan gosip anda. Dan mereka bisa menjadi pembawa gosip seperti mboke sekarang ini :D.

Oke, cukup dengan omongan ibu-ibu. Selintas terdengar kalau sang suami meminta uang 30 juta jika ingin bercerai dari si istri yang bekerja jadi TKW. Selanjutnya mboke mengangguk-angguk mengikuti irama lagu Muse, Uprising…

Yeaaaaaah….

42. Kenikir, Begonia, Rumput, Merak Hitam dan Rumput (lagi)


Pagi ceraaaaaah… yippieeeee….. Matahari menerangi Bumi dannnnnnnn bangunlah sang pecinta. Ibu sedang duduk disamping mboke. Beliau sudah pulang dari jalan-jalan keliling kampung dan sekarang sedang menikmati tontonan kesayangannya: Pinter ga tuuuh… (ranking satu). Tiba-tiba terlintas untuk mengajak beliau jalan ke salah satu tempat wisata yang berjarak sekitar 15 km dari rumah. Taman Bunga Nusantara.

Taman Bunga Nusantara (c)Ang Goen

Merak lambang TBN (c)Ang Goen

Kalo kamu udah sampai di kawasan Cibodas, Puncak mo ke TBN rutenya gini: keluarlah dari rumah dengan pakaian rapih dan bawa bekal makanan. Jangan lupa bawa payung. Disarankan pakai sendal atau sepatu yang enak buat jalan. Meskipun kamu peragawati atau orang yang ga bisa lepas dari high heels, untuk jalan-jalan ke kawasan puncak yang menawarkan wisata alam, ga disarankan untuk pakai loubutin (?). Sendal jepit lebih keren daripada lecet, keseleo, betis kejang karena high heels. Udah siap?

Naik angkot jurusan Cibodas – Cipanas. Itu kalo kamu berangkat dari Cibodas tapi kalo kamu udah sampai Cipanas, ga usah naik angkot itu.  Ntar balik lagi ke Cibodas :)). Dari Cipanas, pilihlah angkutan jurusan Cipanas – Mariwati, sebelumnya disarankan tanya dulu: “lewat Taman Bunga Nusantara ga?”, untuk kepastian aja sih. Ongkos Cibodas – Cipanas itu Rp. 3000 sedangkan Cipanas – Mariwati itu Rp. 4000. Silahkan menikmati jalan yang panjang, rusak, agak macet pas di tempat-tempat tertentu, jalan tertutup air saat banjir dengan hamparan sawah, perkebunan bunga potong, kebun wortel, brokoli, daun bawang di kiri kanan jalan. Sebenarnya sih kalo bawa kendaraan pribadi bisa memintas tapi kendaraan pribadi mboke cuma sepeda yang ga sanggup bawa 2 orang ke sana (dan itu sepeda pun tertinggal di NZ :().

Dari arah Cipanas, TBN itu terletak di sebelah kiri. Halaman parkirnya luas, jadi buat pejalan kaki, nikmati jalan sebentar sebelum bertemu loket yang berjajar. Mboke lupa berapa harga parkir yang jelas, manusia ga ada biaya parkir hihihihi. Tiket masuk adalah Rp. 20.000. Kalo mo sekalian beli tiket kendaraan wara-wiri Rp. 25.000. Pintu masuknya ada ditengah, mbak manis akan menyambut dan breeeek….. tiket disobek. Selamat datang di Taman Bunga Nusantara. Mo kemana sekarang? Ke kanan? ke kiri? lurus?

Hamparan Kenikir, Taman Bunga Nusantara (c)Ang Goen

Disebelah kanan, Merak hitam raksasa berdiri menyambut. Ekornya melantai menutupi tanah. Merak yang dibuat dari seni membentuk tanaman terdiri dari begonia dan kenikir. Gagah menyambut. Sebelah kiri tampak dua dinosaurus sedang menatap pengunjung. Lurus? hamparan kenikir kuning dan jam besar berdiri di depan, sebelum kolam dengan dewi raksasa yang mengeluarkan air dari tangannya menyambut.

Taman-taman disusun berdasarkan tema. Taman Perancis dengan air mancur goyang beriramanya, Taman Amerika  yang disusun seperti wild prairie, Taman Jepang yang cantik (suka lokasi ini) dengan kolam, pinus, shelter, dan gerbangnya. Taman Mawar dengan beraneka ragam warna Mawar, Taman Mediterranian yang kecil dengan koleksi kaktus, Taman Bali (satu-satunya perwakilan Indonesia) dengan bale lelahnya. Cantik.

Jangan lupa masuk ke Rumah Kaca. Bayar Rp. 2000 dan nikmati Begonoa, kenikir, Impatiens, Anggrek dan beberapa jenis tanaman import. Cantik juga. Yang kebayang sama mboke saat memasuki rumah kaca adalah pesta pernikahan yang penuh bunga hihihi… Hasrat terpendam kayaknya :D.

Untuk anak-anak berlarian? ada Maze. Silahkan masuk ke dalam untuk mencari pusat labirin dan berusaha keluar lagi dengan selamat. Kalo dah pusing, minta teman untuk naik ke Menara Pandang. bayar Rp. 1000 untuk bisa naik ke Menara Pandang plus peta buta. carilah jalur di peta buta dan naik ke Menara untuk berteriak menunjukan jalan. Bukan cara yang mudah karena menara ke maze cukup jauh dan susah membedakan orang dalam maze yang berlarian mencari jalan.

Jangan lupa juga untuk main ke permainan anak: mancing, kereta-keretaan, mobil tabrak dan beberapa lainnya. Setiap permainan harus bayar, entah berapa. Mboke masuk cuma untuk lihat-lihat. Jangan lupa untuk berfoto dengan sang lebah yang menjadi maskot permainan anak.

menikmati air depan maze TBN (c) Ang Goen

Lahan seluas 23 ha dapat mboke jalani dengan tenang. Asal tahan panasnya aja karena TBN lebih rendah dari Cibodas, suhunya lebih hangat. TBN juga friendly terhadap pengguna kursi roda atau tongkat. Mereka menyediakan Taman Piknik untuk lokasi makan dan acara, jadi ga akan merusak taman (kecuali pengunjungnya bandel pisan). Mushalla disediakan dan bersih. Toilet gratis dan bersih, Cafe ada di beberapa lokasi dan gerai-gerai kecil pun ada, menyediakan makanan kecil. Mo liat suvenir? ada toko suvenir kecil dekat pintu masuk. Hari itu ada rok batik cantik warna hitam. Hmm jangan tanya bisa nawar harga ga? karena seperti tempat wisata lainnya, harga sudah fix.

Sayangnya saat senang menikmati bunga, hujan turun deras, memaksa mboke dan ibu mbok terjerat di cafe, waktu yang pendek tapi menyenangkan. Kami pulang dengan baju basah (payung ga cukup menahan hujan deras), satu rok wayang batik, perut kenyang dan sampai rumah, kami hanya ganti pakaian dan tiduuuur hingga sisa hari.

36. wuidiiih, Petualangan di Puncak


Hari ini tanpa tujuan pasti Mboke ke Bogor. Sebenarnya sih mo beliin kado buat teman tapi kalo cuma sekedar buat beli kado kayaknya ga asik. Walhasil bikin janji dengan teman untuk bertukar cerita lama dan cerita baru. Sesuai dengan usia, maka teman mboke pasti lah ibu-ibu beranak sekian. Yang satu ini ibu beranak 1 dan sedang hamil. Suatu kejutan yang menarik. Anak pertama ikut karena ayahnya ga bisa menjemput.

Nice lunch at hot, hectic restaurant.

Mboke ga suka belanja baju untuk diri sendiri karena berarti penolakan. Jarang sekali toko yang menjual baju untuk wanita berukuran besar. Seperti gender, diskriminasi pun terjadi pada ukuran tubuh. Manusia dengan ukuran besar mengalamo diskriminasi. Akibat diskriminasi ini, mboke terpaksa (dengan senang hati) masuk ke toko donut untuk mencari wifi gratis. Dua cappucino ukuran besar dan 2 donut menjadi teman.

Yang menjadi inti utama cerita ini adalah saat pulang dari Bogor. Transportasi ke arah daerah wisata Puncak dan Cianjur itu bisa menggunakan bus AKAP (mana aja asal lewat Puncak), Bus Cianjur – Jakarta, Angkot yang harus pindah-pindah sekitar 3 kali dan colt L300 yang entah kenapa semua jurusan Cianjur berwarna putih. Berbeda dengan arah Sukabumi yang L300-nya memiliki warna yang beragam dan full gambar.

Kalau mau naik Bus AKAP bisa dari terminal Baranang Siang atau nunggu di perempatan Ciawi. Kalau mau naik Angkot: ambil angkot dari Baranang siang ke arah Ciawai (01). Turun di Ciawi naik yang ke Cisarua. Turun dari angkot Cisarua (biasanya di pasar Cisarua) naik angkot ke Tugu, Puncak. Dari Tugu, Puncak naik angkot yang ke Cipanas. Perjalanan yang panjang dan tidak disarankan untuk perjalanan sore dan malam hari mengingat kejadian pelecehan seksual yang terjadi akhir-akhir ini.

Colt l300 punya keunikan tersendiri. ada 5 tempat mangkal: jalan di samping Botanic Square/terminal bus airport, di jalan arah tol Bogor-Jakarta (banyak tuh pinggir jalan), di dalam terminal Baranang Siang, beberapa meter dari Gramedia/hero Pajajaran (dekat halte) dan perempatan Ciawi. Semua tempat ngetem punya 1 kesamaan:  Ga akan berangkat sebelum manusia berjejalan dalam colt L300. Kekecualian hanya terjadi di perempatan Ciawi, suka ada supir yang nekad membawa berapapun jumlah penumpang yang naik tanpa harus menunggu berjam-jam. Bayangkan, kadang 3 jam duduk di dalam colt yang diam menunggu penumpang untuk menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam.

Kelebihan dari pilihan transportasi ini adalah kenekatannya. Dia akan menerobos lincah hingga ke tepi jalan saat macet total di Puncak. Atau bahkan ambil jalan tikus yang sempit untuk menghindari matinya lalu lintas Puncak. Nekad dengan keadaan mobil yang sudah tua, rusak bahkan kadang ada keluhan rem yang ga pakem. Supir dan kenek L300 memang lincah  dan penumpang yang memilih transportasi ini adalah orang yang nekad.

Meskipun mobil ini tua, tapi ongkosnya paling mahal. Bus Bogor – Cianjur mungkin hanya 7000 atau kalau tertipu 10.000 rupiah. Angkot sekitar segitu juga. Tapi Colt L300 antara 12.000 sampai 15.000 rupiah bahkan bisa melonjak menjadi 20.000-25.000 rupiah saat lebaran tiba. So, jangan bilang orang yang naik L300 adalah kaum masyarakat bawah. Mereka adalah orang yang membayar mahal untuk cepat sampai meskipun nyawa taruhannya. Sepanjang pengalaman mboke memilih kendaraan ini, masalah yang sering timbul adalah mogok. Tapi supir dan kenek bertanggung jawab. Hanya 1 kejadian kecelakaan L.300 menabrak tebing dan darah dimana-mana.

Sore itu hujan, naik bus bukan pilihan yang aman karena jalan menanjak dan licin dan percayalah, bus AKAP yang lewat puncak, jarang mempunyai kondisi bus sempurna. Lebih lamban dan cekot-cekot. Angkot di jam 5 juga bukan pilihan yang baik. L300 satu-satunya pilihan dan itu berarti harus ke Ciawi untuk mempersingkat waktu.

Singkat cerita, bertemu dengan L300 yang bersedia berangkat saat itu juga. Memilih duduk di depan samping pak supir. Ada keuntungannya: kadang ga harus mpet-mpetan dan bisa lihat pemandangan. Sialnya sore itu bukan pemandangan yang bagus. Diawali dengan macet di belokan Tapos. Ada truk terguling di arah jalan Sukabumi sehingga arus kendaraan diam sama sekali. Supir sepertinya sudah terbakar, mulai ngebut untuk lolos dari jeratan lampu merah Joglo. Ga lolos dan diam sebentar. Kemudian dengan kecepatan yang bagus cepat, naik ke arah Cisarua dan mengangkut beberapa penumpang. Saat memasuki puncak malam turun. Ga cuma malam tapi kabut turut serta, pandangan hanya sekitar 3 meter ke depan. Itupun harus melihat dengan seksama.

Jalanan di Puncak bukan jalan lurus yang bagus. Kalau tidak ada warung sepanjang jalan Puncak, keadaan akan bertambah gelap karena tidak ada lampu jalan. Beruntung warung-warung itu menyediakan penerangan gratis buat pengguna jalan. Meski tujuan awalnya hanya untuk menerangi warung tapi barisan lampu menunjukan bahwa itu adalah pinggir jalan. Gimana dengan supir saya malam ini? Dia makin menggila! Makin laju dan makin nekad mengikuti liuk jalan. Sempat 3 kali banting setir dan terlonjak akibat jalan yang tiba-tiba patah. Pertama kali banting setir karena ada konvoi motor dan salah satu motor tidak mempunyai penerangan sehingga mereka jalan lambat. L300 yang berpacu cepat tidak bisa memperlambat mendadak sehingga banting setir ke kanan.

Kejadian ke dua ketika motor dengan sepasang orang yang tampaknya sedang menikmati malam sabtu berkabut. Mereka jalan agak ke tengah dan L300 yang muncul dari belokan terpaksa menjeritkan klaskon sambil banting setir. Kejadian ketiga adalah banting setir ke kiri, ke arah tebing ketika sebuah mobil dari arah Cianjur menyalib mobil didepannya. Dalam kabut tampaknya dia tidak memperhitungkan ada L300 yang melaju cepat dari arah Bogor. Sebelah kiri mboke menjerit : “Ya Allah, ya Rosulullah”, seorang bapak keturunan Arab. Sebelah kanan, sang supir menjerit sambil mengeluarkan kepala dari jendela: “Anj*ng….!!! Bangs*t….!!!! Sedang mboke sibuk menekan kaki kiri seperti membantu ngerem meski rem sebenarnya sedang diinjak supir yang misuh-misuh. Kami berusaha mencairkan suasana tegang dengan bercanda pada supir. Mungkin ia ingin cepat pulang ke rumah dan memang salah mobil yang menyalib dari arah Cianjur.

Dalam kabut dan malam, dengan supir yang memacu kendaraan, hari ini kelelahan ga cuma karena muter-muter cari blazer. Mboke terlelap begitu kepala menyentuh bantal. Untung sempat membersihkan diri dan makan malam sebelum tepar.

Petualangan di Puncak. Mudah-mudahan ada yang pernah mengalami kejadian kayak mboke. Seru, rame, deg-degan dan menaikan andrenalin.

25. Badai!


Badaaaaai pasti berlaluuuuu….

iya sih badai pasti berlalu tapi nunggu badai berlalu ini yang susah. 12 jam serasa lamaaaaaaaaaa sekali. Bunyi angin bertiup seperti kibasan selendang sang dewi. Weeeer…. weeeer… Kayaknya ini dewi macho sekali sampai genteng dan triplek terbang terbawa angin. Sepertinya Dewi yang ini pun suka iseng memainkan selendangnya: sekali diam, hening, berkipas pelan sampai tiba-tiba pret…. dikepret selendang ajaibnya. Bunyinya wueerrrrr…. wuuuuuuuuuuush dan hening tiba-tiba wueeeeeeeeeeer… bikin cemas.

Kolecer yang dipasang orang menambah keseramanan. Hanya anehnya tadi malam meski angin kencang kolecer tidak berbunyi, entah kenapa. Atau saking ketakutannya mboke, maka yang terdengar hanyalah suara angin. Kerisauan ga cuma karena suara angin dan pecahnya genteng tapi juga karena padamnya listrik. Terpaku dalam gelap, mboke pun membeku. Seandainya ada satu lilin jatuh dan membakar kertas atau bahan mudah terbakar lainnya, angin akan dengan senang hati menyebarkannya ke seluruh kampung.

Kejadian angin menderu di bulan Desember – Februari ini biasa terjadi setiap tahun dan penduduk kawasan sini sudah memperkirakannnya, Namun beberapa tahun terakhir intensitasnya menurun dan baru tahun ini angin kembali memburu dengan besar. Mboke lihat sepanjang jalan saat  angin mulai mereda dan hujan berhenti pedagang bunga membereskan bunga dan tanaman yang terguling akibat angin. Beberapa orang menaiki atap rumah untuk memperbaiki genting atau atap yang terbang terbawa angin. Di Kebun Raya, petugas sedang memandangi beberapa pohon koleksi yang tumbang. Pekerjaan untuk membersihkan koleksi yang tumbang tidak bisa dilakukan sekarang karena sebentar lagi hujan dan angin kembali akan menderu.

Seorang penduduk lokal memberi tahu kalau angin tahun ini lebih besar dari tahun-tahun kemarin. Dia menambahkan kalau seperti ini berarti kemarau tidak akan berlaku panjang. Tahun-tahun lalu, angin tidak terlalu besar dan kemarau berlangsung selama 7 bulan. Kalau angin besar seperti ini, mirip seperti Cibodas di masa lalu, kemarau tidak akan berlangsung lama. Hmmm…. local knowledge. Kita lihat nanti.

Angin mulai mereda. baling-baling kolecer bergerak lambat. Langit masih kelabu. Menanti…. apa yang akan dilakukan alam selanjutnya……

Menarik mengetahui fenomena ini

21. Kolecer…siur….siur…brrrr….


Memang jalan ke luar dan melihat dunia merupakan salah satu pelarian dan pencerahan yang terbaik. Mboke melakukannya pagi ini meski dengan tersaruk-saruk akibat kurang tidur. Sebuah percakapan di telepon, 2 buah sms dan 3 email bolak balik yang menjadikan mboke harus mempersingkat tidur dan keluar. Gangguan yang menyenangkan (dan capek).

Angin menderu saat Mus, asisten/teknisi/teman mengetuk jendela membangunkan. Baru jam 10 pagi. Tiga jam tidur tidak cukup. Menyeret diri untuk mandi dan bersiap. Saat semua selesai hujan pun turun. Hujan angin. Satu jam menunggu, perjalanan di mulai. Disinilah baru menarik: Kolecer alias baling-baling bambu.

(c)Ang Goen, 2012

Disamping rumah mboke tiba-tiba dipenuhi oleh si baling-baling bambu yang menderu, menggeram dan bikin tidur ditemani oleh suara-suara yang awalnya menyeramkan tapi lama-kelamaan jadi mengasikan. Sayangnya mboke tidak bisa mengunduh video kolecer dengan suaranya yang menderu.

Saat angin bertiup kencang yang biasa terjadi di musim hujan (November – April), penduduk lokal akan mendirikan kolecer di tempat-tempat terbuka. Bahkan beberapa tempat di Cianjur melaksanakan lomba Kolecer yang salah satu penilaiannya adalah suara yang dihasilkan. Ampuuuun suaranya yang menggeram sebenarnya menakutkan tapi mungkin buat sebagian orang suara yang menggeram itu sangat manakjubkan.

Kolecer ini terbuat dari bambu dengan tinggi yang mencapai 3 m atau lebih. Baling-balingnya juga bisa mencapai 1 me dengan diikat tali dari kelapa. Kuat dan menggeram. Petra mengajarkan mboke cara membuat kolecer mini. Nanti akan kita bicarakan.

So sambil terkantuk-kantuk dan kelelahan setelah mencari tanaman yang diminta teman mboke, suara kolecer menemani. Angin yang menderu dan geraman kolecer menambah kantuk mboke.

zzzzzz….. selamat tidur.

Puter-puter Cibodas


Mang Sule di OVJ sering banget menyebut nama Cibodas. Cibodas adalah salah satu daerah wisata di Kabupaten Cianjur, Kecamatan Cipanas, Desa Sindang Laya, Jawa Barat. Kalo orang tanya ke penduduk lokal: “mau ke Cibodas” maka yang akan ditunjuk adalah kawasan wisata Cibodas yang terdiri dari Kebun Raya Cibodas (KRC), Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP), Taman Komodo, Kawasan Perkemahan Pramuka dan pasar dadakan setiap minggu siang hingga sore.

Buat yang dari Jakarta, perjalanan dimulai dengan memasuki tol Jagorawi arah Bogor. Tapi jangan belok ke kanan yang masuk ke Bogor melainkan ambil jalur kiri yang arah Puncak. Nikmati perjalanan membelah pasar Cisarua. Siap-siap untuk mengalami sedikit kemacetan di pasar tumpah ini. Perjalanan terus dilanjutkan menanjak hingga Kebun Teh.

Objek menarik di kawasan ini adalah Mesjid At ta’wun dan lokasi terjun payung. Bisa istirahat disini tapi lewatkan saja, karena tujuan kita adalah Cibodas. Hawa sejuk mulai menyergap, meninggalkan keringat yang dibawa dari Jakarta dan Bogor.

Hingga Puncak Pass, jalan mulai menurun. Selamat datang, anda memasuki kawasan Cianjur. Hawa dingin (jika sedang bersahabat) akan terasa. Sebelah kiri anda adalah tebing sedang sebelah kanan lembah dengan kotak-kotak kecil beraneka warna, rumah-rumah di kampung.

Ciloto terlewati, Brasco FO sebelah kanan terlewati, terus sampai sebuah pertigaan dengan plang besar iklan rokok menyambut anda: Pertigaan Paragajen. belok ke kanan dan 4 km lagi anda akan tiba di Kawasan Wisata Cibodas.

Nikmati perjalanan di jalan sempit (jalan Kebun Raya Cibodas) dan (sedikit) rusak membelah Desa Sindang Laya. Penduduk lokal menyebutnya Rarahan (kawasan di dekat paragajen, Dauwan (agak ke tengah) dan Cibodas. Jalan yang hanya pas untuk 2 bus bersisian kecuali di bagian yang bolong, memaksa bus dan kendaraan untuk ke tengah.

Ga ada trotoar buat pejalan kaki. Sisi kiri dan kanan dipenuhi pedagang tanaman berbunga, warung-warung dan penginapan atau villa, memaksa pejalan kaki untuk beradu nyawa dengan kendaraan. Kalo ada 1 kendaraan roda 4 berhenti di tepi jalan, maka akan ada antrian kendaraan yang nunggu lewat, jika sedang rame.

Perhatikan, ada gerbang pertama berwarna kuning yang dipenuhi gambar lambang salah satu provider telekomunikasi. Kami menyebutnya Gerbang Pemda. Disana Penda Cianjur mengambil uang untuk retribusi daerah. Kalo ga salah Rp 2000/orang dan Rp 15.000/kendaraan. Harap anda minta tiketnya dan sesuaikan dengan nilai yang anda bayar.

Untuk bus, parkir kendaraan ada di sebelah kiri sebelum dan sesudah gerbang pemda. Disini ada pungutan tidak resmi untuk parkir bus. Kalo ga salah Rp. 10.000 dan beberapa pungutan tak resmi lainnya.

Sekarang pilihan anda hendak kemana?

Kebun Raya Cibodas. Kawasan seluas 87 ha ini menyuguhkan kehijauan dan berbagai jenis tumbuhan khas dataran tinggi. Rumah Kaca Anggrek, Kaktus, Sukulen dapat dilihat dari luar. Lebih pastinya di intip karena ga bisa masuk. Ada dua rumah yang bisa disewa jika ingin merasakan nikmatnya tinggal di tengah kebun yang damai. Jalan Araucaria menjadi salah satu point of interests. Begitu juga dengan jalan air dan air terjun Ci Ismun. Kawasan ini enak untuk makan sama-sama sambil menikmati alam dan membiarkan anak-anak berlari dengan tenang. Tiket masuk Rp. 6500/orang, Rp. 15.500/mobil dan Rp. 2.500/motor.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Dua buah gunung yang mengawasi kawasan Cibodas. Untuk pendaki gunung, kedua gunung ini sudah akrab. Yang ga kuat sampai ke puncaknya, bisa berendam di Air Terjun Cibeureum. Cukup 2 jam jalan buat yang gagah atau 4 jam jalan buat yang lemot kayak saya. Jangan lupa mampir ke Telaga Biru. Juga jalan di Canopy bridge. Untuk tiket masuk ke air terjun Cibeureum Rp. 3.000/orang. Sedangkan untuk mendaki gunung Gede dan atau Pangrango harus reserve beberapa minggu sebelumnya karena hanya 600 orang/minggu diijinkan untuk mendaki. Kabarnya sekarang diwajibkan untuk didampingi oleh pemandu seharga Rp 300.000.

Taman Komodo. Saya ga tahu kenapa dissebut Taman Komodo. Soalnya ga ada Komodo sama sekali, cuma ada kadal. Disana terdapat kolam buatan. Bisa kemping dan main perahu-perahuan. Belum tau tiketnya berapa.

Bumi Perkemahan Pramuka. Pada dasarnya lapangan yang disediakan untuk perkemahan.

Gimana kalo mau bermalam? ga usah khawatir, sepanjang jalan menuju kawasan wisata Cibodas, banyak penginapan berupa rumah dengan beberapa kamar atau kamar-kamar yang disewakan. Tarif berkisar Rp. 200.000 (per kamar) hingga 2, 5 juta (per rumah). Begitu juga dengan makan. Banyak rumah makan kecil hingga restoran. Cuma kalo malam dan anda ga bawa kendaraan, agak susah untuk keluar mencari makan.

Selamat main-main di Cibodas