Tag Archive | Indonesia

Translation common language (Bahasa sehari-hari – English) 2


Kita lanjut ya…. Sambil menunggu inspirasi buat ngerjain PR

Ok, we start again….. while waiting inspiration to come…

Kepencet : push a button unintentionally. Pencet: push the button (something).

ngedumel: grumbling. Mostly when someone angry or unsatisfied, she/he says something to her/himself complaining.

misuh-misuh: see ngedumel

bobo : (1) sleep (2) the title of a popular children magazine. The icon is a rabbit but to be honest this magazine is not playboy for children but really, truly magazine for children.

sirik: (1) envy for other people triumph/wealthy/fortune (2) a character of a witch in Bobo Magazine

Ngobrol: chat unnecessary things

ngemil: snacking, eating snacks

Ayang: from Sayang, dear, honey

Bubu: (1) Syahrini’s boy friend. Rumor said he is rented boyfriend (2) a tool to catch fishes on the river

Ngepet: stealing money but the thief is a pig. Actually the pig is human then he turns into a pig on the night and steals money (i don’t know how). His partner should wait a burning candle. If the light moving, his partner should blow the candle otherwise the pig will be captured. It’s a myth.

Kunti: from kuntilanak, a ghost in the form of a woman with white dress and long black hair. Everyone who testify see kunti never remember her face. They said kunti has a hole on her back where she keeps the kidnapped babies. Kunti always ngikik. *see ngikik

Ngikik: laughing hysterically with high pitch. sounds like kikikikikikik….

Nongkrong: (1) go together with friends, sitting and talking on warung (food stall), pub etc. (2) one method of sit. Confuse. Let this drawing explain it to you

(c)http://aingsinuki.blogspot.co.nz/2011/05/nongkrong.html

Jongkok: see nongkrong no 2

Nungging: (this is more difficult to explain – mboke) lay on your stomach on the floor/bed and rise your bottom. If you are stomached, nungging is a good position to overcome the pain.

Cipok: kiss

Cupang: (1) a fish name, ikan cupang (2) hickey

Gaplok: hit with your hand

Toyor: push someone head with your hand

Ngegelepak: lay on the floor/bed due to tiredness

Romantis: (1) romantic (2) cigaret, eat for free (rokok makan gratis), idiom for man who rely on his girlfriend for everything

Pedit: Stingy

Nyengir: (1) smile (2) dumb smile (3) lift one of your corner mouth to make a forced smile when hear the unfunny jokes. If you confuse, you can see the smile of the horse. we called it “nyengir kuda” if your forced smile is too large as the the horse smile

Nyengir kuda (c)udiendkab.wordpress.com

bersambung

tobe continued

Translation: common language (Bahasa sehari-hari – English)


Kalau translate bahasa Indonesia ke bahasa Inggris itu dah biasa tapi terjemahan bahasa yang dipakai sehari-hari, yang ga baku ke bahasa Inggris itu kayaknya jarang. Mungkin ada ya, tapi biarlah, mboke bikin aja.

It is common to translate Indonesia to English or vice versa but I guess, translation of common language (Indonesian) to English is rare to find. So let me trying to do it (My English is not good but please trying to understand or at least pretend to understand #grin)

Ini gara-gara Nic. Mboke yang iseng men-share sebuah lawakan tentang mengartikan istilah berbahasa Inggris ke bahasa sunda, direspon oleh Nic untuk menuliskannya lebih detil. Dan sekalian pamer, maka mboke menuliskannya di blog ini.

Nic made me do this! I shared a joke bout translation of several idioms in English to Sundanese and he responded by asking to write it more in detail. Since I am a narcissistic, I wrote it in my blog. Numpang tenar #eh.. trying to be popular.

Urutannya bukan berdasarkan abjad tapi berdasarkan yang keinget.

It is random, not based on alphabet but based on my memories. Just remember the spelling in Indonesia is different from English. We  read what we write. 

Hai: Hi. It is common to greet someone informally. Hai is more friendly but different from hey. Hey tend to be said in high pitch and it could mean yelling to someone.

Halo: Hello. It is a greeting too.. Could be formal or informal.

Gue, gua, gw: I. It is a slang word of Aku, saya. Mostly use in daily, commoners language.

Lo, elo, lu: you. It is a slang word of kamu, anda.

Ente: you. it comes from Betawi language.

Ngesot: moving while you are sitting on the floor, creep

Ngejengkang: falling backward and your head hit the floor.

Kejeduk: hit your head on the floor or wall or something hard unintentionally

kepepet: in a hurry

Dipepet: someone is moving really close to you

kejepret: (little bit difficult to describe-mboke): One part of your body is hit by something that launch from elastic rubber unintentionally. prefix ke- means unintentionally

Molor: (1) delay (2) sleep, (slang, impolite) (3) loose

Ngupil: an activity to pick your nose’s waste; Upil (noun)

Ngelicin: ironing

Ketiban: someone (something) fall on you and you are under it (unintentionally)

Ketempuhan: (sundanese) you force to do something that actually someone else has to do it

Kegebok: hit by a ball hardly unintentionally

Kegep: red handed

Ngaco: messy, talking like a drunk

Ngebet: want something desperately

Dah, udah: already

Dadah: bye bye

Sawer: Nyawer, giving money to a dancer or singer, usually dangdut singer

Tabok: slap, hit someone body using your palm

Tonjok: hit someone using your fist

Dower: big lips. Some people find bibir dower is tempting. But commonly they use dower to bully people with big lips.

Ngeces: salivate, usually to people, or baby

Ngeces (c)Detikhealth

Ngiler: salivate, usually to food, something, or salivate during sleeping

Ngiler

Nganga: open your mouth widely, sometime it is using to express astonishment.

Ngablak: open widely

Cablak: talkactive, someone who like to talk without considering someone else feeling

Ngakak: laugh hysterically for something funny. The sound is hahahaha…

Itu aja dulu. Mboke mo balik ngerjain PR dulu yah…

For now, that’s it. I have to do my homework

Dadah…

Bersambung…

To be continued…

Hidup bersama orang lain


Manusia itu mahluk sosial. Jarang sekali manusia yang bisa hidup sendiri, tidak berkata-kata kepada mahluk hidup lain dan tidak tergantung terhadap mahluk hidup lain. Mungkin ada tapi berarti dia manusia terakhir di muka bumi karena ga bisa lagi bereproduksi. Sayangnya dalam keragaman komunitas diskriminasi sering terjadi baik yang besar terasa maupun kecil.

Hey, siapa yang tidak suka melayani perempuan cantik, langsing, wangi dibandingkan perempuan jelek, gendut dan berkeringat? Mata cenderung kepada yang indah, perut cenderung kepada yang enak. Alami. Sayangnya peribahasa itu turut berlaku dalam memberikan pelayanan atau pertolongan.

Mboke sebagai mahluk yang tergolong tidak cantik, tidak langsing tapi berusaha wangi memahami naluri dasar manusia dan memahami perbedaan perlakuan yang terjadi. Tidak hanya perawakan tapi juga kekuatan isi dompet. Diakui atau tidak, memang memberikan pengaruh. Hal yang sangat dirasa ketika kita bersama berada dalam komunitas sebangsa. Pengkotakan atas dasar ras, fisik dan nominal memang terasa.

(c)snvdiversityrt.zoomshare.com

Ketika kita terdampar ditengah bangsa yang berbeda tiba-tiba semua perbedaan ras,fisik dan nominal mulai mengecil. Mungkin masih ada tetapi mulai menyempit. Di negara yang memang kecil dan tidak ditoleh sosialita negara tercinta, kedekatan makin terasa. Si sipit berbaur dengan si belo. Si putih bercampur dengan si hitam. Si kaya memberikan kursi ke miskin dan saling membantu. Mungkin satu hal yang sulit terjadi di negara tercinta. Tenggelam dalam kelas masyarakat sendiri-sendiri.

Menarik hasil percakapan ditengah malam bersama teman, perawakan Cina, Sunda, Jawa dan  Jakarta. Di kampung mboke, peranakan Cina adalah kaum tersendiri dengan penilaian tersendiri. Hingga mereka tidak mau disebut sebagai Cina tapi Caina karena merasa Cina adalah sebutan yang merendahkan. Tapi disini mereka membaur menyatu menjadi masyarakat Indonesia. Tidak lagi merasa berafiliasi dengan Cina diseberang sana.

“Gue cuma berusaha menjadi orang baik. Gue ingin negara gue ga diacuhkan oleh bangsa ini. Negara gue lebih maju. Hanya korupsi mencoreng. Selebihnya, negara gue lebih baik dari ini”

 

36. wuidiiih, Petualangan di Puncak


Hari ini tanpa tujuan pasti Mboke ke Bogor. Sebenarnya sih mo beliin kado buat teman tapi kalo cuma sekedar buat beli kado kayaknya ga asik. Walhasil bikin janji dengan teman untuk bertukar cerita lama dan cerita baru. Sesuai dengan usia, maka teman mboke pasti lah ibu-ibu beranak sekian. Yang satu ini ibu beranak 1 dan sedang hamil. Suatu kejutan yang menarik. Anak pertama ikut karena ayahnya ga bisa menjemput.

Nice lunch at hot, hectic restaurant.

Mboke ga suka belanja baju untuk diri sendiri karena berarti penolakan. Jarang sekali toko yang menjual baju untuk wanita berukuran besar. Seperti gender, diskriminasi pun terjadi pada ukuran tubuh. Manusia dengan ukuran besar mengalamo diskriminasi. Akibat diskriminasi ini, mboke terpaksa (dengan senang hati) masuk ke toko donut untuk mencari wifi gratis. Dua cappucino ukuran besar dan 2 donut menjadi teman.

Yang menjadi inti utama cerita ini adalah saat pulang dari Bogor. Transportasi ke arah daerah wisata Puncak dan Cianjur itu bisa menggunakan bus AKAP (mana aja asal lewat Puncak), Bus Cianjur – Jakarta, Angkot yang harus pindah-pindah sekitar 3 kali dan colt L300 yang entah kenapa semua jurusan Cianjur berwarna putih. Berbeda dengan arah Sukabumi yang L300-nya memiliki warna yang beragam dan full gambar.

Kalau mau naik Bus AKAP bisa dari terminal Baranang Siang atau nunggu di perempatan Ciawi. Kalau mau naik Angkot: ambil angkot dari Baranang siang ke arah Ciawai (01). Turun di Ciawi naik yang ke Cisarua. Turun dari angkot Cisarua (biasanya di pasar Cisarua) naik angkot ke Tugu, Puncak. Dari Tugu, Puncak naik angkot yang ke Cipanas. Perjalanan yang panjang dan tidak disarankan untuk perjalanan sore dan malam hari mengingat kejadian pelecehan seksual yang terjadi akhir-akhir ini.

Colt l300 punya keunikan tersendiri. ada 5 tempat mangkal: jalan di samping Botanic Square/terminal bus airport, di jalan arah tol Bogor-Jakarta (banyak tuh pinggir jalan), di dalam terminal Baranang Siang, beberapa meter dari Gramedia/hero Pajajaran (dekat halte) dan perempatan Ciawi. Semua tempat ngetem punya 1 kesamaan:  Ga akan berangkat sebelum manusia berjejalan dalam colt L300. Kekecualian hanya terjadi di perempatan Ciawi, suka ada supir yang nekad membawa berapapun jumlah penumpang yang naik tanpa harus menunggu berjam-jam. Bayangkan, kadang 3 jam duduk di dalam colt yang diam menunggu penumpang untuk menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam.

Kelebihan dari pilihan transportasi ini adalah kenekatannya. Dia akan menerobos lincah hingga ke tepi jalan saat macet total di Puncak. Atau bahkan ambil jalan tikus yang sempit untuk menghindari matinya lalu lintas Puncak. Nekad dengan keadaan mobil yang sudah tua, rusak bahkan kadang ada keluhan rem yang ga pakem. Supir dan kenek L300 memang lincah  dan penumpang yang memilih transportasi ini adalah orang yang nekad.

Meskipun mobil ini tua, tapi ongkosnya paling mahal. Bus Bogor – Cianjur mungkin hanya 7000 atau kalau tertipu 10.000 rupiah. Angkot sekitar segitu juga. Tapi Colt L300 antara 12.000 sampai 15.000 rupiah bahkan bisa melonjak menjadi 20.000-25.000 rupiah saat lebaran tiba. So, jangan bilang orang yang naik L300 adalah kaum masyarakat bawah. Mereka adalah orang yang membayar mahal untuk cepat sampai meskipun nyawa taruhannya. Sepanjang pengalaman mboke memilih kendaraan ini, masalah yang sering timbul adalah mogok. Tapi supir dan kenek bertanggung jawab. Hanya 1 kejadian kecelakaan L.300 menabrak tebing dan darah dimana-mana.

Sore itu hujan, naik bus bukan pilihan yang aman karena jalan menanjak dan licin dan percayalah, bus AKAP yang lewat puncak, jarang mempunyai kondisi bus sempurna. Lebih lamban dan cekot-cekot. Angkot di jam 5 juga bukan pilihan yang baik. L300 satu-satunya pilihan dan itu berarti harus ke Ciawi untuk mempersingkat waktu.

Singkat cerita, bertemu dengan L300 yang bersedia berangkat saat itu juga. Memilih duduk di depan samping pak supir. Ada keuntungannya: kadang ga harus mpet-mpetan dan bisa lihat pemandangan. Sialnya sore itu bukan pemandangan yang bagus. Diawali dengan macet di belokan Tapos. Ada truk terguling di arah jalan Sukabumi sehingga arus kendaraan diam sama sekali. Supir sepertinya sudah terbakar, mulai ngebut untuk lolos dari jeratan lampu merah Joglo. Ga lolos dan diam sebentar. Kemudian dengan kecepatan yang bagus cepat, naik ke arah Cisarua dan mengangkut beberapa penumpang. Saat memasuki puncak malam turun. Ga cuma malam tapi kabut turut serta, pandangan hanya sekitar 3 meter ke depan. Itupun harus melihat dengan seksama.

Jalanan di Puncak bukan jalan lurus yang bagus. Kalau tidak ada warung sepanjang jalan Puncak, keadaan akan bertambah gelap karena tidak ada lampu jalan. Beruntung warung-warung itu menyediakan penerangan gratis buat pengguna jalan. Meski tujuan awalnya hanya untuk menerangi warung tapi barisan lampu menunjukan bahwa itu adalah pinggir jalan. Gimana dengan supir saya malam ini? Dia makin menggila! Makin laju dan makin nekad mengikuti liuk jalan. Sempat 3 kali banting setir dan terlonjak akibat jalan yang tiba-tiba patah. Pertama kali banting setir karena ada konvoi motor dan salah satu motor tidak mempunyai penerangan sehingga mereka jalan lambat. L300 yang berpacu cepat tidak bisa memperlambat mendadak sehingga banting setir ke kanan.

Kejadian ke dua ketika motor dengan sepasang orang yang tampaknya sedang menikmati malam sabtu berkabut. Mereka jalan agak ke tengah dan L300 yang muncul dari belokan terpaksa menjeritkan klaskon sambil banting setir. Kejadian ketiga adalah banting setir ke kiri, ke arah tebing ketika sebuah mobil dari arah Cianjur menyalib mobil didepannya. Dalam kabut tampaknya dia tidak memperhitungkan ada L300 yang melaju cepat dari arah Bogor. Sebelah kiri mboke menjerit : “Ya Allah, ya Rosulullah”, seorang bapak keturunan Arab. Sebelah kanan, sang supir menjerit sambil mengeluarkan kepala dari jendela: “Anj*ng….!!! Bangs*t….!!!! Sedang mboke sibuk menekan kaki kiri seperti membantu ngerem meski rem sebenarnya sedang diinjak supir yang misuh-misuh. Kami berusaha mencairkan suasana tegang dengan bercanda pada supir. Mungkin ia ingin cepat pulang ke rumah dan memang salah mobil yang menyalib dari arah Cianjur.

Dalam kabut dan malam, dengan supir yang memacu kendaraan, hari ini kelelahan ga cuma karena muter-muter cari blazer. Mboke terlelap begitu kepala menyentuh bantal. Untung sempat membersihkan diri dan makan malam sebelum tepar.

Petualangan di Puncak. Mudah-mudahan ada yang pernah mengalami kejadian kayak mboke. Seru, rame, deg-degan dan menaikan andrenalin.

Cacat Bukan Berarti Tidak Sempurna


“Sebutin siapa aja orang berkaki satu yang berhasil? Orang berkaki satu kan konotasinya orang miskin, kotor” Adik saya merengut.

“Banyak kok, mantan istrinya Paul McCartney berkaki satu dan pakai kaki palsu. Model pula dia. Coba baca Intisari kemarin, dia berkaki satu tapi menaklukan gunung”

“Siapa namanya?” tuntut adik saya

“hmmmm… lupa” Saya nyengir dan saya pun membuat tulisan ini untuk memenuhi janji kepada adik bahwa mempunyai kaki satu (cacat) bukan berarti kita tidak sempurna (benar ga kalimat ini?)

Terry Fox. Humanitarian, aktivis, olahragawan. Terdiagnosa osteosarcoma pada tahun 1977 dan kaki kanannya diamputasi hingga beberapa inci diatas lutut. Ia melakukan lari maraton (marathon of Hope, Terry Fox Run) dengan kaki palsu untuk mengumpulkan dana untuk kanker. Setiap tahun pada bulan September, seluruh dunia memperingati Marathon of Hope untuk mengumpulkan dana bagi penelitian kanker.

Sabar. Dia adalah orang Indonesia tuna daksa berkaki satu yang mampu menaklukan Elbus dari sisi sebelah utara yang sulit ditempuh. Vladimir Krupennikov (1997) dan Yakov London dari Rusia (2001) juga pendaki yang berhasil menaklukan puncak Elbus. Keduanya memiliki kaki yang lumpuh.

Heather Mills aka Lady McCartney. Dibalik berbagai kontroversi, Heather Mills adalah seorang model yang mengalami kecelakaan akibat tertabrak motor polisi dan menggunakan kaki palsu semenjak itu. Pada tahun 2007 ia mengikuti acara televisi Dancing with the Star.

Dr. Kennedy Ted Jr, putra tertua dari senator Ted Kennedy. Ia kehilangan kaki kanannya karena kanker. Lulus S1 dari Wesleyan University, S2 dari Yale University dan S3 dari University of Connecticut jurusan Hukum.

April Holmes, pemegang juara dunia lari 200 m. Kakinya diamputasi akibat kecelakaan kereta. Ketika dokter menyarankan untuk ikut lomba lari, ia berfikir bahwa hal itu gila. Namun waktu membuktikan bahwa ia mampu.

Iya, kita kehilangan satu penumpu badan, memang kita kehilangan keseimbangan untuk berdiri dan butuh bantuan. Namun, tidak berarti kita tidak mampu berkembang, berfikir dan membantu manusia lain yang mungkin sempurna fisiknya.

Manusia mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Dengan hanya kaki satu saya yakin, adik saya akan dapat beradaptasi dengan keadaan barunya. Mampu membantu orang melahirkan, mampu membimbing anak didik, mampu bekerja sebagai petugas kesehatan. 

Banyak orang lain yang tidak cukup dikenal yang tidak mempunyai organ tubuh lengkap namun mampu untuk mandiri. Sayangnya, Indonesia masih kurang bersahabat untuk orang cacat.

Semangat untuk A leng….

Sumber:

Jakarta oh Jakarta


Mboke lahir dan besar di Jakarta sebelum pergi ke Sumatra Barat buat bertapa, ke LN buat nambah kesaktian dan mendem di kampung yang sekarang buat ngadem. Mboke bukan anak gaul. Mulai dari SD sampai SMA, cuma ngider di komplek rumah. Keluar cuma buat les bahasa Inggris di Pramuka, les pelajaran di kawasan arah Pasar Senen sana (lupa namanya), ke Priok (karena ada rumah uwak), Tanah Abang (karena suka belanja pernik2 buat kerajinan tangan), Pasar Senen tempat saya ngobrak ngabrik buku bajakan dan buku bekas, dan pasar Jatinegara buat beli baju lebaran. Delapan belas tahun, cukup buat jadi pengalaman di Jakarta.

Saya masih beranggapan Jakarta masih kota yang hebat dan bangga punya KTP Jakarta waktu ngadu ilmu di Sumatra Barat. Bahkan ada kumpulan anak-anak Jakarta yang happening banget waktu itu, meski saya ga ikut. Gak ikut bukan karena gak gaul tapi karena kantong ga mampu mengikuti gaya hidup mereka.

Saat saya harus ngadem di kampung sekarang ini, awalnya rada terpukul. Anak kota jadi anak kampung. Masih ga terima dan masih sombong. Orang-orang pada mudik, saya pulkot (pulang ke kota). Masih beranggapan keren. Tapi karena jadi anak kampung saya jadi bisa ke luar negeri untuk nambah ajian.

Sekembalinya dari luar negeri, baru saya menyerah pada Jakarta. Jakarta hanya kota kelahiran. Penuh manusia yang berebut mencari rejeki, dari yang halal hingga yang haram. Dari yang haram berkedok halal hingga yang asli haram tak diakui salah. Macet. Ya ampuuuuun…. macet dimana-mana. Saya ga bisa tepat waktu memenuhi janji atau saya harus berangkat beberapa jam lebih awal agar tepat waktu. Kontradiksi dengan keadaan saya sewaktu di tempat nambah ajian. Resiko dari kemacetan adalah jam karet. Jangan harap bisa punctual, jam karet pun membentuk pribadi saya sebagai anak Jakarta.

Stress akibat jam karet, macet dan sesak karena manusia tidak terasa menghampiri. Berkeringat dingin sambil sekali-sekali melirik jam tangan, meracau berusaha menenangkan hati dengan bicara yang tak perlu, senyum terpaksa pada muka yang tegang bikin otot muka saya jadi aneh. Dulu saya tidak tahu hal ini sampai supir kantor saya bilang: “mbok sekarang sudah ga tegang dan marah-marah lagi kayak dulu ya”. Agak terkejut karena saya baru menyadari dulu saya stress.

Belum lagi kecemasan saya kalo jalan sendirian. Dulu copet yang saya cemaskan. Sebelum berangkat semua barang berharga dimasukan ke dasar tas. Uang ongkos saja yang ada di saku. Dompet ga boleh keluar. Saat ini saya ga cuma takut sama copet. Saya takut dengan pelaku hipnotis, gendam, penculikan, pemerkosaan dan pembunuhan, seperti kejadian yang menimpa Livia, mahasiswa Binus (semoga Tuhan mengampuni dosa-dosanya dan semoga pelakunya dihukum seberat-beratnya). Saya juga takut dengan peminta-minta yang memaksa dengan muka memelas tapi mengancam. Saya takut rasa kemanusiaan saya luntur karena peminta-minta penipu.

Panas. Suhu Jakarta makin meningkat setiap tahun. Kekurangan lahan hijau ditambah polusi membuat suhu Jakarta tidak lagi nyaman seperti waktu saya kecil. Dulu selembar sapu tangan cantik atau sebungkus tissue wangi, cukup buat menemani saya. Sekarang, modal saya adalah sapu tangan handuk, sabun muka, dan berbungkus-bungkus tissue. Muka saya yang berminyak akan semakin berminyak, keringat mengalir dan debu akan menggantikan bedak wangi yang saya pakai sebelum berangkat.

Saya tidak seberuntung orang lain yang punya kendaraan pribadi. Mengejar bus dan berdesakan menjadikan saya tidak bisa berpakaian cantik dan bersepatu feminin seperti wanita lain (ditambah kenyataan saya lebih comfort dengan pakaian yang casual). Karena itu saya juga harus menjaga aset pribadi saya (bemper belakang dan bemper depan) agar tidak dicolek secara sengaja atau tidak sengaja. Tuhan menganugrahi saya dengan asset yang lumayan besar.

Jangan lupa banjir saat musim hujan dan kekurangan air saat musim kemarau. Masalah lain yang mengancam adalah intrusi air laut yang bikin kulit kering. Nyamuk pun menjadi masalah buat saya. Bikin stress dan kulit saya menjadi berwarna dengan bentol dan bekas garukan.

Oke, di Jakarta lebih mudah mencari uang. Asal mau usaha, kerja keras dan ga malu, semua bisa jadi ladang usaha. Mulai dari modal besar hingga tanpa modal, cukup dengan teriakan: kiri..kiri..kanan… yup alias tukang parkir, asal mau aja, uang bisa didapat. Mungkin itu yang menarik di Jakarta. Belum lagi fasilitas yang diberikan berkumpul di Jakarta. Mutu pendidikan lebih baik, semua pusat pemerintahan ada di Jakarta, fasilitas belanja mewah. Mau apa aja ada. Kota ga pernah mati. Mungkin itu yang menarik hati para pemuda desa untuk pergi ke Jakarta.

Sambil menyeruput kopi hangat dan bakwan jagung, saya mengagumi kampung tempat saya sekarang bernaung. Saya tidak mau kembali ke Jakarta dan tinggal disana. Biarlah saya tidak pernah masuk Senayan City atau Plaza Indonesia, berdesakan di busway dan menikmati AC bis kopaja yang baru, atau kesenangan yang ditawarkan kota Jakarta. Saya cukup senang tinggal di pinggiran kampung dengan biaya hidup yang murah, memberikan kesempatan untuk saya berkembang dan belajar dari kehidupan. Tinggal di kampung toh tidak bikin saya wawasan saya seperti katak dalam tempurung. Untuk saat ini kampung menjawab semua kebutuhan dasar saya.

Menarik jika ada yang bisa memberikan pendapat lain. Silahkan share :)