Tag Archive | Kanker

Die in hospital


Kematian neng Ayu, penderita leukemia di RS Harapan Kita karena adanya shooting sangat menghentak. Ceritanya begini:

Ayu Tria Sumber: Detik.com

Ayu (9 tahun) adalah penderita leukemia. Sudah berulang kali keluar masuk RS dan dirawat. Hari itu dia masuk ke RS dan mendapat penanganan di UGD. Satu setengah jam kemudian Ayu dipindahkan ke ICCU. Namun pada saat yang sama sebuah shooting sinetron “love in Paris” dilakukan di tempat yang sama, ICCU. Pada pukul 2 pagi, Ayu dinyatakan koma dan dinyatakan meninggal 30 menit kemudian. Saat kejadian itu, kegiatan shooting sudah mulai terhenti tapi perlengkapan shooting masih belum dibereskan. Beberapa orang malah masih tertidur.

Berita Ayu segera menyeruak, menjadi bahan diskusi di beberapa media massa dan forum. Beberapa orang berusaha menyarankan untuk tidak menuduh langsung dan mencerna berita dengan baik. Mungkin kematian bukan disebabkan karena adanya kelalaian akibat adanya shooting di (sekitar) ruang UGD dan ICCU. Sebagian besar menyalahkan akibat adanya shooting ditenggarai menyebabkan pasien tertunda ditangani.

Terlepas dari penyebab kematian, kejadian ini menjadi pembuka mata betapa tidak perdulinya rumah sakit terhadap pasien.

Rumah sakit memang berhak untuk mempromosikan keberadaannya dan pelayanannya tapi mempromosikan lewat sinetron sebagai latar belakang sinetron sepertinya tidak layak dan tidak tepat.

Berdasarkan berita dan pengakuan para penunggu pasien, shooting dilakukan berdekatan dengan ruang ICCU yang secara logika dan sudah seharusnya dijaga sterilitasnya malah terganggu dengan crew sinetron yang keluar masuk dengan bebas tanpa memperhatikan kebersihan.

Penderita leukemia dan penderita kanker yang berada dalam terapi kemo harus mendapatkan dan dirawat dalam lingkungan yang steril. Daya tahan tubuh mereka menurun setelah tubuh digempur dengan obat-obatan keras yang ditujukan untuk membunuh sel kanker tapi ternyata ikut menghancurkan sel sehat lainnya.

Kampung mboke sering menjadi lokasi shooting sinetron, iklan, video musik. Kadang mereka menggunakan beberapa bangunan sebagai tempat menginap, lokasi atau hanya berganti baju. Saat mereka pergi, tissue bekas membersihkan make up, bekas makanan, bekas minum berserakan. Artis-artis cantik yang menjadi bintang ternyata tidak lebih dari manusia biasa yang buang sampah sembarangan. Keluar masuk tanpa mengindahkan ada orang lain.

Mungkin karena merasa sudah membayar.

Jadi bisa dipahami kalau shooting Love in Paris ikut berperan dalam kematian pasien yang seharusnya mendapat perawatan dan lingkungan yang steril.

Leukemia

Amat sangat disayangkan. Acara menceritakan kesulitan kehidupan cinta seorang penderita leukemia malah turut berperan membunuh pasien leukemia

Amat disayangkan, rumah sakit yang seharusnya lebih mendahulukan nilai kesehatan dan kemanusian ceroboh dalam mengambil keputusan untuk mengijinkan adanya kegiatan yang tidak terlalu bermanfaat

Daffodil Day, Cancer Day


“Gue senang kalau Daffodil mulai muncul”

“hah? Daffodil yang mana? Asteraceae bukan?”

“bukan, itu loh yang bunganya kuning. Kalau Daffodil sudah muncul itu berarti spring time datang”

“hooo”

dan mboke pun mencari tahu apa Daffodil itu.

Sumber: mostbeautifulflower.com

Bulan Agustus kemarin, Daffodil menjadi topik utama. Selain karena bunganya yang cantik, perlambang musim semi dan juga menjadi lambang Daffodil day.

Setiap tanggal 31 Agustus dirayakan sebagai hari kanker yang dilambangkan dengan Daffodil. Daffodil melambangkan kehidupan setelah musim dingin yang membekukan. Kemunculannya menunjukan adanya kehidupan. Warnanya cerah menunjukan keceriaan. Harapan dari semua penderita kanker dan keluarganya.

Pada hari ini, Cancer Society melakukan penggalangan dana di jalan, pusat perbelanjaan, melalui sms, penjualan bunga Daffodil dan souvenir dan sumbangan pribadi melalui berbagai cara. Setiap nilai uang sangat berarti, bahkan untuk jumlah uang terkecil pun. Satu sticker menjadi tanda jika sudah menumbangkan sejumlah kecil uang. Mereka menyatakan 80% dari sumbangan yang diberikan akan digunakan untuk membantu penderita kanker dan mengembangkan penelitian penyakit ini.

Hari itu, Daffodil Day sangat berarti bagi mboke. Berbeda dengan hari-hari lainnya yang juga diperingati di New Zealand, cancer day seperti hari terbesar perayaan.

Masih teringat bayangan dia berbaring di kamar rumah sakit. Berusaha menerima hidup dengan tabah. Kadang hampir menyerah kalah. Saat terasa sakit pun berusaha sabar dan kuat. Orang yang berkunjung tidak melihat  dan mendengar keluhan.

Masih teringat matanya. Pasrah. Dan mboke berusaha menghibur atau terdiam sambil berusaha menahan air mata.

Berharap tahun depan masih dapat berjumpa. Tapi harapan yang sia-sia.

Hari itu pesawat mboke berangkat jam 3 sore. Malam itu, mereka menyarankan agar menginap di RS tapi mboke tidak sanggup karena sakit. Jam 10 pagi sudah berada di rumah sakit dengan badan lelah dan masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Kami masih berbicara dengan santai. Ipod ditinggalkan untuk menemaninya, ada satu lagu Sheila on 7 yang sangat dia sukai di ipod.

Dia bilang: “maafin gue kalo nanti tidak ketemu”

mboke dengan kelu: “nanti ketemu. Tahun depan kita ketemu”

kami menangis

Ga ada tahun depan untuk bertemu…

winter, kupluk dan kanker


Haduuuuuh… bekuuuuu….. Meski ga ada salju tapi udara bener-bener bikin badan mengkerut. Seperti berjalan di dalam kulkas. Suhu hari ini berkisar antara 7 – 10 derajat celcius, angin yang berhembus bikin dingin bertambah. Daripada masuk angin, ga ada yang ngerokin, obat anti masuk anginpun masih belum sampai, maka kostum pun berubah. Celana double, ga cukup jeans doang. Baju triple: kaos, baju hangat, jaket. Leher yang tak jenjang pun diselimuti syal tebal.

Awalnya masih sanggup hanya bermodalkan syal tapi lama kelamaan ga kuat. Sarung tangan pun jadi aksesori wajib. Kuping yang telanjang terhembus angin bikin ga kuat, kupluk pun jadi pilihan. Kupluk yang cuma satu terpaksa ditambah. Kata etek: “mbok lu kayak penjaga villa yang di puncak” begitu melihat model kupluk yang mboke pilih. Meski warnanya merah cerah tapi ujungnya berjambul bikin lucu. Etek ga tahu aja kalo kupluk yang satu lagi model peci bulet :D.

Cerita kupluk di musim dingin mengingatkan mboke akan A Leng. Saat rambutnya rontok, dia sms mboke meminta dibelikan kupluk atau istilah kerennya beanie. Beanie mboke cuma ada satu waktu itu, warnanya putih. Dia bilang beanie putih udah sering dipake, ga sempat dicuci. Kalo ga salah 4 beanie mboke belikan dengan berbeda warna, supaya bisa dia ganti-ganti dan sesuaikan dengan warna bajunya.

Sumber: linkwhip.com

Kupluk ga cuma penutup kepala di saat winter. Penderita kanker yang sedang menjalani kemo pun menggunakannya. Rambutnya yang rontok akan memperlihatkan kulit kepala yang menghitam akibat obat kemo dan kupluk pun menemani untuk menutup kepala.

Sebenarnya beragam kupluk yang bisa digunakan, mulai dari yang berwarna cerah sampai yang punya bentuk lucu. Tapi waktu itu mboke cuma menemukan yang bentuk standar di toko yang mboke jelajahi. Warnanya pun tidak begitu banyak: merah, putih, hitam dan abu-abu. Berbeda dengan disini, yang kupluk menjadi barang biasa, maka bentuk dan warnanya pun beragam.

Berbeda juga dengan anggapan penggunaan di Indonesia yang cenderung beranggapan kupluk dipakai oleh para penjaja villa yang kedinginan menunggu tamu yang datang di sepanjang jalan Puncak. Atau penjaga malam yang berusaha menjaga keamanan atau maling yang berusaha menutup muka mereka dengan si kupluk. Disini kupluk menjadi barang idola saat angin dingin menjelang, tua muda, anak-anak, orang dewasa, lelaki dan perempuan.

Sambil duduk di pojok bus yang melaju membawa mboke pulang, matahari sudah mulai turun meski baru jam 5 sore membawa pergi terang, mendatangkan kegelapan, air mata mboke mengalir. Mengingat A Leng yang terbaring tidur menggunakan kupluk, menutupi kepalanya. Kupluknya kebesaran karena ga ada rambut yang menahan.

A Leng, sekarang winter. Dingin. Apakah A Leng pun kedinginan disana? ga ada kupluk yang menjaga kehangatan kepala A Leng. Semoga damai, karena mboke belum sedamai A Leng.

Mengenang mbak Sima


(c)The Jakarta post

Mboke ga pernah ketemu dengan mbak Sima. Nama lengkapnya T. Sima Gunawan. Ketemu nama ini waktu muter-muter cari informasi tentang osteosarcoma. Blog dia adalah salah satu blog yang tertangkap dan menarik hati mbok. Dari blog dia, mbok ketemu situs rumah kanker dan membaca pengalaman penderita kanker dari sang penderita.

“Hi, I have been living with cancer since 2004. After mastectomy and six-round chemotherapy, I thought I was free from cancer. In 2007 I found out that it came back! My doctor said it was stage four because cancer had spread to my bones, and… Hey, don’t give me that look. I’m just fine……”

Itu yang dia tulis di page about me. Sejak saat bertemu blog dia pertama kali di tahun 2010/2011, mboke mengikuti. Namun beberapa bulan terakhir, ga ada lagi menengok karena kesibukan. Pagi ini saat kembali membuka link blognya, saya membaca kesakitannya karena syaraf kakinya yang lumpuh, kepalanya yang sakit akibat tumor. “wondering whether the blogger is alright?” itu yang mboke kirimkan ke blognya. Saat scoll up aru terbaca kalau mbak Sima sudah meninggal dunia di bulan Januari 2012

Mbak Sima ternyata adalah seorang jurnalis di the Jakarta Post. Beliau pekerja yang keras. Pada tahun 2003 beliau mengundurkan diri dari The Jakarta Post dan beberapa bulan kemudian diketahui menderita kanker. Mei 2011 beliau terpaksa harus bed rest karena kanker dan berita kematiannya baru terbaca melalui koment di blognya.

Kenangan akan mbak Sima akan terus ada. Endy M. Bayuni menulis kenangan akan mbak Sima (In Memoriam: Sima Gunawan). Kenangan beliau di mata teman, kolega, sahabat bahkan orang yang tidak pernah tahu sebelumnya tentang beliau. Pengalamannya melewati masa-masa sakit dan semangat, perjuangannya untuk melewati penderitaan akan menjadi rujukan bagi yang lain (Cancer Sucks!)

Rest in Peace, mbak Sima. No pain anymore.

The Death, Alive, Sickness, Pain


Dini hari, kamis, 17 Mei, Wisnu menyapa. Tumben tuh anak menanyakan adek mboke. Biasanya meski sama-sama online, jarang banget saling sapa. Mboke yang baru bangun tidur dengan ceria cerita tentang A Leng yang sedang dikemoterapi dengan obat baru. Obat kemonya yang lama merusak jantung dan sekarang harus ganti obat. A Leng ga mau tadinya tapi mamah mau. A Leng ngadu lewat message di FB minta dukungan supaya ga kemo lagi. Obat kemonya yang baru berpotensi merusak ginjal. Mboke yang selalu berharap A Leng bisa sembuh, setidaknya kankernya ga menyebar dan terlokalisir, malah mendukung mamah dan minta A Leng supaya kemo. Jawaban waktu itu: “sakiiiit mboook, gue ga mau lagi. Begini udah enak. Udah biarin aja sampai mati”. Jawab mboke: “iya sakit. Tapi kalo kemo berhasil, kan ga sakit lagi. Yang mboke takutin, sekarang A Leng ga ngerasa apa-apa tapi nanti malah parah. Lebih baik kemo, sakit tapi nanti ga papa”. Ga ada jawaban…. dan kabar yang diterima A Leng sudah di Dharmais untuk kemo.

Saat Wisnu menyapa, dalam pikiran mboke, A Leng sedang muntah berat setelah kemo dengan obat barunya. Apalagi Uning bilang kalo sekarang pada sibuk di RS karena A Leng habis kemo. Diujung pembicaraan Wisnu malah tanya harga tiket ke NZ yang dibalas dengan ceramah cari beasiswa kemari. Sehabis Wisnu, Fris menyapa. Tapi beritanya lain. Dia bilang kalo A Leng sudah susah. She passed away. Dia dapat kabar dari Wisnu. Ga mungkin karena Wisnu barusan chat. Tadinya mboke minta supaya Fris sms uning karena sms mboke sudah beberapa hari tidak dijawab. tapi permintaan itu dibatalkan karena takut kalau berita benar selain itu karena saat itu pasti tengah malam di Indonesia.

Pagi dilewati dengan ketidaknyamanan. Mboke mulai menghubungi via facebook tanpa balasan. Memberanikan diri membuka facebook A leng. Beberapa orang menuliskan keterkejutan dan berbelasungkawa, mulai dari 3 jam yang lalu. Ga mungkin. A Leng sedang di RS, sedang pemulihan. Mboke cuma menulis di wall A Leng: A Leng lagi di RS, sedang kemo. Tidak ada bantahan. Sehari itu mboke di rumah, menunggu. Menangis. Ucapan di wall A Leng makin banyak. FIU yang pagi itu menemani mboke mendapat kata-kata keras (kalo ga bisa dibilang makian) karena tidak bisa menemani dan menenangkan hati mboke yang susah.

Tetap tidak ada berita. SMS sudah. FB sudah. Diam… ga ada berita…

Jumat pagi mboke ke kantor dengan mata sembab dan keyakinan Aleng ga ada. Menangis saat Jhon berkata: “is it true?” Sejam kemudian mboke berada di klinik mahasiswa dengan janji jam 2 akan bertemu konselor. Menumpahkan perasaan….

Hari sabtu masih kuat, hari minggu mulai goyah, hari senin memaksakan diri. Sekarang selasa. Mboke terkapar. Yang pergi sudah melepaskan semua rasa sakit. Yang tertinggal lumpuh menjadi sakit. Jangan bilang Aleng dah ga kuat sehingga memilih pergi. Karena mbok tau, Aleng kuat dan akan berjuang sampai akhir. Tapi memang tuhan mentakdirkan sekarang, kuat ga kuat, Aleng harus pergi. Jangan bilang jangan menangisi yang pergi. Karena mboke merasa layak berduka. Semua harapan dan doa terkumpul untuk kesembuhan. Tahun depan pasti bertemu. Itu bekal mboke saat pergi dari rumah sakit menuju bandara. Tatapan terakhir dan tangkis kami terakhir, bersama.

Sampai sekarang mboke ga tahu Aleng kapan pergi. Mungkin itu lebih baik. Kenangan terakhir yang tersisa saat dia melepas mboke dari tempat tidur di Dharmais dengan tangis dan mata yang berduka. “Mungkin tahun depan gue ga ada”. Kenangan yang selalu teringat dan dan selalu menyisakan tangis.

No more pain anymore. Begitu yang dia tulis saat ibu Endang meninggal karena kanker. Sekarang Aleng pun tidak lagi merasa sakit.

No more pain….

dan mboke masih menangisi….

Kanker, A Leng, Ibu Menteri.


Berita meninggalnya Ibu Menteri Kesehatan karena kanker paru menyeruak. Pasti bukan karena ibu Menteri perokok, karena beliau dan suaminya yang direktur rumah sakit tahu akan arti kesehatan. Turut berbelasungkawa buat ibu Endang yang telah berjuang melawan kanker.

Berita itu tidak hanya membawa terenyuh dan iba tapi juga mengingatkan akan Aleng. Aleng yang menulis komentar di wall temannya bahwa ibu menteri sedang krisis dan memohon doa. Meminta doa untuk orang lain sedangkan dia membawa penyakit dalam dirinya. Mboke mencoba membaca komen dia sebagai orang yang tidak tahu bahwa Aleng sakit. Tapi ga bisa. Rasanya kelu. A Leng dan Ibu Menteri adalah orang yang bekerja di bidang yang sama: kesehatan

Kanker bukan penyakit yang mudah. Mungkin Rima Melati bisa bertahan dari kanker dan menjadi orang yang sehat dan beraktivitas seperti biasa. Namun kanker sebenarnya adalah penyakit yang mengkonsumsi jiwa, raga dan harta. Sehingga pernah ada berita yang menyatakan penderita kanker cenderung melakukan bunuh diri dan orang yang menderita kanker (di Indonesia) cenderung jatuh miskin.

Butuh kesabaran, ketegaran, kekuatan untuk menjaga pasien kanker. Penderita kanker pun harus kuat dan tabah. Melihat Aleng pasrah masuk ruang operasi berkali-kali, bukan hal yang mudah. Meski saat itu kami masih punya harapan kuat dia akan sehat setelah operasi. Melihat dia muntah hebat setiap makan saat dan sesudah kemo, melihat dia mengerenyit menahan sakit saat obat kemo menetes, saat mulai mengalami halusinasi adalah bukan hal yang ringan. Meski Aleng dan penderita kankernya tentu lebih merasakan sakit daripada yang dapat terlihat.

Wisnu, salah seorang teman dengan penderitaan yang sama dengan Aleng bercerita kalau dia tidak perduli dengan kepala botaknya, duduk di kursi roda. Dia hanya ingin McDonald untuk makan setelah kemo dan dia pergi ke mall meski semua orang melihat aneh. “Gue cuma mau sembuh. Gue cuma mau makan itu. Gue ga bisa makan apa-apa. Gue ga perduli”. Sekarang Wisnu di Malaysia menyelesaikan S1-nya sambil sesekali pulang untuk check up perkembangan osteosarcoma-nya.

Lain lagi dengan Kitty, Osteosarcoma survivor, yang masih menggunakan kruk dan lutut diperkuat agar mudah berjalan. “Saya sehabis kemo selalu minta baskom berisi air dan saya suka memainkan tangan dalam air. Ga boleh ada yang ambil baskom, pokoknya mau itu. Terus saya paksa makan meski sakit dan muntah”. Kitty masih bersedia datang untuk berbagi semangat kepada penderita osteosarcoma yang membutuhkannya.

Mama Dewi, ibu salah satu penderita osteosarcoma lain lagi. “Bram udah dua paket kemo, masih tumbuh lagi. Tapi dia saya paksa minum Tahitian Noni dan makan. Untung anaknya nurut. Saya sudah habis-habisan tapi ga papa, sudah terbiasa. Kakaknya juga Leukemia”. Ibu yang ramah dan aktif di kegiatan Kanker Indonesia selalu rajin mendampingi pasien yang akan dioperasi atau dikemo.

Mamah mboke lain lagi. Beliau hanya diam dan tidak menunjukan kesedihan hatinya. Anak-anaknya yang lain jauh, terpaksa hanya mamah dan kakak sepupu yang mengurus Aleng. Mengelus punggung saat Aleng muntah, membacakan doa, menyuapi, memegang tangan saat Aleng mulai ketakutan sendirian. Entah kapan tangis mamah akan keluar, melepaskan sesak. Setidaknya saat ini beliau tegar. Dua anggota keluarga kami sudah pergi dan mamah menerimanya dengan tabah. Sekarang satu anaknya menghadapi hari-hari panjang akan kematian dan beliau masih tegar.

Ga semua seberuntung Kitty dan Wisnu. Mendapat kabar seorang penderita osteosarcoma tertatih melawan hidup karena kanker sudah menyerang paru-paru. Kadang ada berita pasien harus diamputasi kaki atau tangannya karena menyelamatkan hidup. Atau suami yang terpaksa melihat istri yang baru dinikahi sebulan untuk menjalani kemo dan perawatan panjang lainnya.

Banyak penderita kanker dan keluarganya di sekitar kita. Mereka mungkin tidak tampak dan tidak menjadi berita seperti halnya ibu Menteri Kesehatan. Tapi penderitaan mereka dalam menjalani penyakit dan pengobatan sama.

Mudah-mudahan berita tentang kanker paru-paru dan meninggalnya ibu menteri kesehatan, Dr. Endang Sedyaningsih, bisa sedikit menolehkan hati kita kepada penderita kanker lainnya.

Seperti status Aleng hari ini di Facebook:

Bu Endang, no more pain….

Sebuah kalimat yang berarti buat kami, buat Aleng, buat penderita kanker lainnya.

At the end, we will be there… with no pain….

Sekedar cerita.