Tag Archive | tuyul

Kopi, manggul tuyul dan sambel


Pagiiiiiiii…………

Pagi ini berangkat dengan semangat. Seribu kata harus beres!!!! ciaaaaaaaaaaaat…… Mudah-mudahan seribu kata, bersih, dapat terselesaikan. Meski bangun pagi-pagi tapi tetap aja, berangkat jam 9. Entah kenapa selaluuuu ada aja yang bikin berangkat lebih pagi itu gagal. Kali ini adalah keraguan akan matahari yang bikin telat.

Ngintip diluar sebelum mandi, hujan. Berarti kostum harus tebal dan pake jas hujan. Selesai mandi, malah cerah. Ada sedikit cahaya matahari dan diatas sana awan kelabu menyingkir. Tapi, jangan tertipu, di kawasan Turitea sana, pasti gelap. Kostum rubah: cukup pakaian tebal dan jaket tebal.

Betul kan….. ga terlalu tertipu. Di kampus dingin dan kelabu.

Dingin-dingin gini enaknya ngupi. Lagipula makin siang makin ngantuk. Mari kita ngupi.

Sepanjang jalan menuju tukang kopi, mboke memasukan tangan yang membeku ke kantong jaket. Di bayangan kaca, tampak seperti orang yang memanggul sesuatu. Kebetulan jaket ini sakunya ada dibelakang, melintang sepanjang pantat, ga disamping kiri kanan selayaknya jaket normal.

Tapi gara-gara kantong yang aneh ini, makanya jaket dibeli. Beda gitu loh.

source: fiksi.kompasiana.com

Sambil mematut diri depan kaca jendela gedung Science B, mboke jadi teringat mitos bahwa orang yang meletakan tangannya dibelakang selayaknya memanggul sesuatu itu dianggap memelihara tuyul. Tuyul, katanya, harus dibawa jalan-jalan sambil mengobservasi rumah yang akan disantroni. Entah kenapa si tuyul males jalan sendiri.

Nah karena digendong dibelakang, makanya tangan si pemilik tuyul seperti menggendong dibelakang.  Katanya juga, kalau mau tahu beneran itu orang gendong tuyul, ledekin aja dengan menjulurkan lidah dibelakang tertuduh alias dilewekin. Si tertuduh akan langsung menoleh karena si tuyul kasih tau. Katanya looooh…. catet: KATANYA!

Nah, berhubung disini hantu beda dengan hantu disana, maka mereka ga akan percaya tuyul dan kalau melihat mboke berjalan sambil memasukan tangan di saku belakang jaket, mereka ga akan berfikir mboke sedang menggendong tuyul. Mungkin kalau di Indonesia, mboke sudah dikejar-kejar orang dituduh manggul tuyul. Padahal karena kantong dibelakang.

Tuyul ini ga dikenal disini. Kalau hantu, meski beda versi, masih ada. Sepertinya yang ga ada adalah tuyul dan pocong. Kalau kunti, mungkin ada dengan versi modifikasi. Maksudnya hantu perempuan yang jalan hilir mudik. Soal dia bolong atau tidak, entahlah. Begitu juga dengan hantu lelaki. Kalau di Indonesia hantu lelaki jarang menampakan diri. Kalau disini ada.

Terfikir untuk melakukan import tuyul. Belum ada bisnis itu disini. Sialnya, tuyul di Indonesia belum pernah terbukti berhasil membobol bank. Disini perputaran uang cenderung tidak menggunakan uang tapi kartu. Meski ada menggunakan uang tapi jumlahnya sedikit. Berarti otomatis tuyul harus mampu bekerja di pusat uang berada: bank. Sayang banget, tuyul belum ampuh.

Selain itu, tuyul juga dicurigai ga akan tahan hidup dilapangan rumput. Karena disini hutan angker jarang ada. Yang ada perkebunan pinus dengan pohonnya yang berjarak dan lapangan rumput berhektar-hektar. Seandainya tuyul bisa lebih kooperatif dengan bersedia berbagi rumah dengan domba dan sapi, mungkin potensi bisnis ini cukup layak. Toh dia bisa langsung menyusu pada sapi.

Setelah berdebat dengan teman maya, bisnis tuyul pun digagalkan. Padahal ga ada ongkos kirim karena tuyul bisa terbang sendiri setelah dikasih alamat tujuan.

Hubungan tuyul dengan sambal? ga adaaaaa….

Kemarin ga makan seharian, maksudnya ga makan nasi. Cuma pie dan kopi. Dan karena lapar, terbitlah nafsu makan buesar. Pengen makan sambel, nasi hangat dan lalap. Sayangnya mboke ga punya cobek alias mortar. Dengan tekad kuat, hari itu, dengan gagah, mboke bertekad! (seandainya tekad ini bisa digunakan buat tekad belajar huhuhu) Harus dapet mortar alias cobek berukuran kecil.

Dan berkeliaran lah di plaza. Dapet mortar putih dengan harga $9, mortar kayu berukuran sedang $7 dan mortar batu kecil $29. Sedang ada diskon 30%. Buat menentukan mortar ajar butuh waktu 30 menit, ditambah ngecek uang yang ternyata cuma $50. Ya tuhan, ternyata beginilah perempuan kalau belanja. Untuk menentukan pilihan aja muteeeeeeer lama. Pantesan si Priss ngamuk pas nganter maknyak dia belanja.

Walhasil si mortar batu pun terbawa pulang. Meski mahal tapi ga mudah pecah dan bisa dibawa ke lapangan ntar kalo ada tugas. Lumayan diskon 30%pun

Makan malampun terasa mewah: sambal dadak, nasi hangat, scramble eggs alias telor orak arik dan lalap.

Duh tuyul tadi kemana yah, tinggal $29 lagi niiih sampe akhir minggu

Sumber: kampusiwu.blogspot.com